Parlemen Israel Setujui Anggaran Pertahanan Besar-besaran di Tengah Perang dengan Iran
Parlemen Israel telah menyetujui anggaran negara untuk tahun 2026 yang mencakup peningkatan signifikan dalam belanja pertahanan. Keputusan ini diambil di tengah keterlibatan negara tersebut dalam konflik di berbagai front, terutama dengan Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Peningkatan Anggaran Militer yang Signifikan
Alokasi militer Israel naik lebih dari 10 miliar dolar AS, setara dengan sekitar Rp169 triliun. Dengan tambahan ini, total anggaran pertahanan Israel kini melampaui dua kali lipat dibandingkan sebelum perang Gaza pada tahun 2023. Secara keseluruhan, anggaran nasional Israel mencapai 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.585 triliun, menjadikannya anggaran terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, telah terlibat dalam perang dengan Iran sejak 28 Februari 2026. Selain itu, Israel juga berperang melawan Hizbullah setelah melakukan invasi ke Lebanon selatan, sambil tetap melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza.
Dana Darurat untuk Perlengkapan Militer
Media lokal melaporkan bahwa pemerintah Israel juga menyetujui dana darurat sebesar 827 juta dolar AS, sekitar Rp14 triliun, untuk pembelian perlengkapan militer darurat. Langkah ini menunjukkan kesiapan Israel dalam menghadapi eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan Kontroversial dari Presiden AS Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan kontroversial kepada Financial Times, di mana ia menyatakan keinginannya untuk "mengambil minyak di Iran." Trump mengatakan, "Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tapi beberapa orang bodoh di AS berkata: 'mengapa kamu melakukan itu?' Mereka itu orang bodoh."
Pernyataan ini muncul saat harga minyak acuan utama AS kembali melampaui 100 dolar AS per barel, sementara Brent melampaui 115 dolar AS per barel. Trump juga menyebut kemungkinan merebut pelabuhan ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, dengan mengatakan "mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak opsi."
Rencana Operasi Darat dan Perubahan Rezim di Iran
The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon tengah menyiapkan rencana operasi darat berminggu-minggu di Iran, meski belum jelas apakah rencana ini akan disetujui. Dalam pernyataan terpisah, Trump menyatakan bahwa perang AS–Israel telah "pada dasarnya mengganti rezim" di Iran, merujuk pada tewasnya beberapa pemimpin senior Iran selama konflik.
Berbicara kepada wartawan di Air Force One, Trump mengatakan kematian para tokoh terkemuka Iran berarti AS kini "berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari yang pernah dihadapi sebelumnya." Ia menambahkan bahwa ia "cukup yakin" kesepakatan dapat tercapai meskipun pertempuran masih berlangsung.
Pakistan sebagai Mediator Potensial
Pakistan mengumumkan akan menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara AS dan Iran, meski belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan kedua negara telah meminta Pakistan memfasilitasi negosiasi terkait konflik yang telah berlangsung sekitar sebulan tersebut.
"Pakistan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua belah pihak dalam beberapa hari ke depan, demi penyelesaian komprehensif dan berkelanjutan atas konflik yang sedang berlangsung," katanya. Namun, masih belum jelas apakah pembicaraan itu akan bersifat langsung atau tidak langsung.
Pakistan muncul sebagai mediator tak terduga di antara pihak-pihak yang bertikai, memanfaatkan apa yang digambarkan para pejabat sebagai diplomasi diam-diam selama berminggu-minggu serta hubungannya yang relatif baik dengan AS dan Iran.
Keraguan dari Iran
Di sisi lain, ketua parlemen Iran meragukan rencana tersebut dan menyebutnya sebagai "kedok", terutama setelah sekitar 2.500 marinir AS dilaporkan tiba di kawasan. Dia juga memperingatkan bahwa pasukan Iran siap menghadapi pasukan AS dan menghukum sekutunya di wilayah tersebut.
Dengan situasi yang terus berkembang, keputusan Israel untuk meningkatkan anggaran pertahanan menandakan persiapan intensif dalam menghadapi konflik yang mungkin berlarut-larut di kawasan Timur Tengah.



