Anggota DPR Kritik Wacana MBG untuk Anak Sekolah di Saudi
DPR Kritik Wacana MBG untuk Anak Sekolah di Saudi

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, mengkritik wacana program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Ia menilai Badan Gizi Nasional (BGN) sebaiknya memprioritaskan pendistribusian MBG di dalam negeri yang masih banyak anak sekolah belum mendapatkan jatah.

Fokus pada Dalam Negeri

"Menurut hemat saya, kita urus dulu yang di dalam negeri. Masih banyak anak sekolah di dalam negeri yang belum mendapatkan jatah MBG," kata Irma kepada wartawan pada Selasa, 2 Juli 2026.

Irma meminta BGN untuk membuktikan terlebih dahulu bahwa program MBG mampu meningkatkan imunitas dan IQ anak. Ia juga berharap tujuan MBG untuk menurunkan angka stunting dapat tercapai.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Fokus dulu urus yang di dalam negeri agar fungsi MBG di dalam negeri dapat dibuktikan, betul-betul dapat meningkatkan imunitas anak dan IQ anak, juga menurunkan tingkat kelahiran anak stunting dengan fokus pada nilai gizi yang didistribusikan setiap SPPG," ujar Irma.

Pertimbangan Fiskal dan Pengawasan

Irma juga meminta BGN mempertimbangkan kemampuan fiskal negara. Ia menyoroti pengawasan yang diperlukan jika wacana tersebut terealisasi di Jeddah.

"Jika bicara hak, maka anak-anak BMI (Buruh Migran Indonesia) di seluruh dunia juga berhak mendapatkan program yang sama. Namun, lihat juga kemampuan fiskal negara untuk bisa melaksanakan itu, belum lagi nanti kontrolnya di tiap negara yang minta juga. Nggak usah jauh-jauh ke Saudi, anak-anak BMI di Malaysia jauh lebih banyak dan butuh perhatian," katanya.

Wacana dari BGN

Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana mewacanakan program MBG untuk anak sekolah Indonesia di Jeddah. Dadan akan melapor ke Presiden Prabowo Subianto terlebih dahulu terkait usulan tersebut.

Hal itu disampaikan Dadan saat mengunjungi sekolah Indonesia di Jeddah. Menurutnya, ada sekitar 1.000 anak pekerja migran yang bersekolah di sana.

"Saya diminta datang ke sekolah Indonesia Jeddah di mana di situ ada kurang lebih 1.081 anak-anak pekerja migran yang didik di sekolah Indonesia Jeddah, dan saya kira ini program yang bagus karena bisa membuat anak-anak pekerja migran itu punya harapan masa depan," kata Dadan.

Dadan mengatakan ada sekitar 100 siswa dan 56 guru yang antusias menyambut kedatangannya. Para siswa meminta program MBG seperti yang ada di dalam negeri.

"Mereka spontan ingin menikmati program yang dirasakan oleh teman-temannya di Indonesia," katanya.

Usulan itu akan dilaporkan ke Presiden Prabowo dan diharapkan menjadi pilot project bagi tempat lain yang memiliki pekerja migran Indonesia, seperti Malaysia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga