Fenomena SD Negeri Nol Murid Baru Meluas di Sejumlah Daerah Indonesia
SD Negeri Tak Dapat Murid Baru Meluas di Berbagai Daerah

Fenomena sekolah dasar (SD) negeri yang hanya mendapat sedikit murid baru pada awal tahun ajaran 2026/2027 ternyata bukan satu-satunya masalah. Di sejumlah daerah, terdapat SD negeri yang sama sekali tidak mendapatkan satu pun murid baru. Berikut rangkuman dari pemberitaan jaringan detik.com dan Antara mengenai SD negeri yang gagal memperoleh siswa baru.

Jawa Tengah: Empat SD Negeri di Karanganyar Nol Murid

Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, empat SD negeri tidak mendapatkan siswa baru tahun ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Hendro Prayitno, menyebutkan sekolah-sekolah tersebut adalah SDN 3 Blumbang di Kecamatan Tawangmangu, SDN 3 Jatiwarno di Kecamatan Jatipuro, SDN 4 Seloromo di Kecamatan Jenawi, dan SDN 3 Tunggulrejo di Kecamatan Jumantono.

"Terkait dengan SPMB 2026, ada beberapa SD di Kabupaten Karanganyar itu sampai hari ini tidak mendapatkan murid. Ada di Tawangmangu itu ada dua, kemudian di Jenawi itu ada satu, kemudian di Jatipuro itu juga ada satu," katanya, Rabu (15/7) dikutip dari detikJateng.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut pantauan Disdikbud, faktor utama penyebabnya adalah letak geografis yang sulit dijangkau dan terbatasnya jumlah anak usia sekolah dasar di sekitar sekolah. "Pertama terkait geografis, seperti di Kelurahan Blumbang, Tawangmangu. Posisi sekolahnya terlalu tinggi dan permukiman masyarakat terlalu jauh dari lokasi sekolah," jelas Hendro. Ia juga menambahkan bahwa munculnya sekolah-sekolah baru turut memengaruhi persaingan mendapatkan murid.

Disdikbud Karanganyar telah menerjunkan tim ke lokasi untuk evaluasi. Bahkan, ada sekolah yang sudah tidak mendapatkan murid selama dua tahun berturut-turut.

DIY: Belasan SD dan SMP di Bantul Minim Peserta Didik Baru

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, DIY, memetakan sejumlah sekolah negeri dan swasta yang kekurangan atau tidak mendapat peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menyatakan bahwa data awal menunjukkan adanya 12 SD dan 10 SMP swasta yang hanya memperoleh peserta didik baru antara nol hingga lima orang.

"Beberapa SMP yang mendapatkan siswa antara nol hingga lima orang ada 10 SMP swasta, untuk SD ada 12 sekolah, baik negeri maupun swasta," katanya di Bantul, Selasa (14/7) dikutip dari Antara. Nugroho menduga minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi berbagai faktor yang masih perlu dikaji, termasuk data kependudukan. Disdikpora akan menelusuri jumlah anak pada kelompok usia sekolah melalui Dinas Kependudukan.

Sebagai acuan, jumlah maksimal peserta didik per rombongan belajar (rombel) adalah 32 siswa untuk SMP dan 28 siswa untuk SD.

Jawa Timur: Empat SD Negeri di Ponorogo dan Tiga di Tulungagung Nol Murid

Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, empat SD negeri tidak memperoleh satu pun siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Ketua Komisi D DPRD Ponorogo, Riyanto, menyoroti fenomena ini dan menilai persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai fenomena tahunan. Faktor penyebabnya antara lain menurunnya angka kelahiran akibat program Keluarga Berencana (KB) dan meningkatnya pilihan masyarakat terhadap sekolah swasta berbasis keagamaan.

"Di SD swasta yang berbau agama itu rata-rata malah membludak. Nah, di SDN sendiri banyak yang hanya menerima siswa sangat minim, dan bahkan hari ini ada empat SD yang kosong, tidak mendaftar. Ini menjadi pemikiran kita bersama," katanya, Rabu kemarin dikutip dari detikJatim. Komisi D DPRD Ponorogo berencana meminta keterangan dinas pendidikan untuk mencari solusi agar SD negeri di wilayah pinggiran dan perbatasan tetap bertahan.

Di Tulungagung, tiga SD negeri sama sekali tidak mendapatkan murid baru: SD Negeri 4 Besuki, SDN 5 Bungur, dan satu SD swasta Dlodo di Desa Panggungkalak, Kecamatan Pucanglaban. Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, menjelaskan bahwa SDN 4 Besuki tidak mendapat siswa karena faktor geografis yang terpencil dan hanya melayani warga Dusun Comanuk. "Pada tahun ini untuk anak usia kelas 1 minim, sehingga tidak ada pendaftar," katanya, Senin (13/7) dikutip dari detikJatim. Meski demikian, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut tetap berjalan normal karena kelas 2-6 masih memiliki siswa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Zuyun menambahkan, beberapa SD negeri lain juga kesulitan mendapatkan siswa, seperti SDN 2 Sembon dengan satu murid baru, SDN Pucung dengan dua murid, dan SDN 2 Plandaan dengan dua murid baru. Namun, ada juga SDN 2 Kedungwaru yang tahun lalu minim pendaftar, kini mendapat 11 murid.

Bali: SDN 6 Bhuana Giri Empat Tahun Tak Dapat Siswa Baru

Di Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, SDN 6 Bhuana Giri yang terletak di Banjar Dinas Komala, Desa Bhuana Giri, tidak mendapatkan siswa baru. Ironisnya, total sudah empat tahun sekolah tersebut tak mendapat siswa. "Tahun ini kami kembali enggak dapat siswa baru," kata Kepala SDN 6 Bhuana Giri, I Made Suartika, Senin (13/7) dikutip dari detikBali.

Setiap menjelang tahun ajaran baru, pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, tetapi belum membuahkan hasil. Suartika menjelaskan bahwa jumlah penduduk di sekitar sekolah sangat terbatas. Dari sekitar 50 kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah itu, sebagian besar adalah warga usia lanjut, sementara keluarga muda banyak yang merantau ke Denpasar.