Enam Dokter Internship Meninggal dalam Lima Bulan, DPR Desak Evaluasi
Enam Dokter Internship Meninggal, DPR Desak Evaluasi

Enam dokter peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) meninggal dunia dalam kurun Februari hingga Juli 2026. Kasus terbaru menimpa dr. SZM, yang diduga melompat dari lantai 18 Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7/2026). Peristiwa ini menambah rentetan kematian yang memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap program internship dan perlindungan dokter muda.

Enam Kematian dalam Lima Bulan

Data dari Asosiasi Program Internship Dokter Indonesia dan Program Internsip Dokter Gigi Indonesia (Asosiasi PIDI-PIDGI) mencatat enam dokter internship meninggal sejak Februari 2026. Selain dr. SZM, kematian lainnya meliputi:

  • dr. M. Zulfikar Drakel, M.Res. – ditemukan meninggal di indekos di Lampung pada 21 Juli 2026. Ia bertugas di RSUD Sukadana, Lampung Timur. Kementerian Kesehatan menyatakan kematiannya tidak terkait perundungan.
  • dr. Myta Aprilia Azmy – meninggal pada 1 Mei 2026 akibat infeksi paru berat saat bertugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
  • dr. Andito Muhammad Wibisono – meninggal pada 26 Maret 2026 saat bertugas di RSUD Pagelaran, Cianjur.
  • dr. Edgar Bezaliel Hartanto – meninggal pada 17 Maret 2026 akibat demam berdarah dengue (DBD) saat bertugas di RS Bhayangkara, Denpasar.
  • dr. Kartika Ayu Permatasari – meninggal pada 25 Februari 2026 akibat infeksi campak saat bertugas di RS Bina Bhakti Husada, Rembang.

Kematian dr. SZM masih dalam penyelidikan. Kapolsek Pancoran Kompol Mansur menyatakan, “Pemeriksaan baru sebatas saksi-saksi di TKP, termasuk keamanan apartemen. Belum ada kesimpulan penyebab pasti.” Kamar korban di lantai 18 ditemukan terkunci dari dalam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Desakan Evaluasi dari DPR dan Pakar

Anggota Komisi X DPR Syarief Muhammad mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus dr. SZM. “Pengungkapan fakta utuh penting untuk mencegah spekulasi dan memberi keadilan bagi keluarga,” ujarnya. Ia menyoroti data enam kematian dalam lima bulan. “Ini angka sangat memprihatinkan. Besar kemungkinan ada persoalan mendasar dalam sistem pendidikan dan pelaksanaan program internship dokter.”

Syarief mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program internship. “Negara bertanggung jawab memastikan lingkungan belajar yang aman, sehat, manusiawi, dan bebas tekanan yang membahayakan keselamatan dan kesehatan mental peserta. Program internship harus mencetak dokter profesional, bukan menempatkan peserta dalam kondisi mengancam jiwa,” tegasnya.

Perlindungan Dokter Muda ala WHO-ILO

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya perlindungan komprehensif bagi dokter dan tenaga kesehatan. Risiko meliputi paparan penyakit menular, tekanan psikososial, kelelahan akibat beban kerja berlebihan, dan tantangan lain di fasilitas kesehatan.

“Kita kembali mengharapkan para dokter internship dan dokter muda lainnya mendapat perlindungan, demikian juga tenaga kesehatan lain,” kata Tjandra. Ia merekomendasikan adopsi pedoman WHO-ILO Caring for Those Who Care dan Resolusi WHA ke-74. Perlindungan harus mencakup dampak penyakit menular (seperti campak), psikososial, fisik (kelelahan), dan tantangan klinis.

“Hanya dengan perhatian serius dan kerja perlindungan nyata kita dapat mencegah terus berulangnya kematian dokter di usia muda. Semoga kepedihan ini tidak terus berulang,” tandasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga