Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman angkat bicara mengenai keresahan masyarakat akan sulitnya menyampaikan kritik. Menurutnya, kritik merupakan napas demokrasi Indonesia yang harus dibedakan dari provokasi dan adu domba.
Kritik Adalah Napas Demokrasi
Dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (12/6/2026), Dudung menegaskan bahwa kritik yang membangun sangat diperlukan, bukan yang meruntuhkan. "Kritik adalah napas demokrasi yang harus membangun, bukan meruntuhkan. Jangan samakan kritik dengan provokasi, fitnah, dan adu domba yang dapat merusak persaudaraan kita sebagai bangsa," ujarnya.
Dudung memastikan bahwa pemerintah selalu membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Namun, ia mengingatkan agar penyampaiannya dilakukan dengan bijaksana. "Kita semua dituntut untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat dan kritik. Pemerintah selalu membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, termasuk kritik," jelas mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu.
Refleksi Sejarah Bangsa
Dudung mengingatkan bahwa Indonesia tumbuh dari sejarah panjang yang penuh luka, air mata, pengorbanan, dan darah para pendiri bangsa. Berbagai konflik hampir merusak persatuan dan kesatuan Indonesia. Ia menyinggung pemberontakan PKI Madiun, DI/TII, RMS, G30S, serta berbagai gerakan lainnya. Indonesia juga pernah terkoyak oleh konflik Ambon, Poso, Sampit, Sambas, Aceh, dan peristiwa sosial-politik di Papua serta daerah lainnya.
"Di sana, hati nurani bangsa pernah diuji," sambung mantan KSAD itu. Dudung bersyukur bangsa Indonesia tetap berdiri kuat hingga hari ini. Menurutnya, semua itu karena Indonesia memiliki warisan luhur, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.
Ajakan Menuju Indonesia Emas 2045
Dudung mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan rangkaian sejarah Indonesia sebagai tonggak refleksi dan introspeksi guna mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat. "Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bekerja membangun Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat. Mari kita, sebagai bangsa Indonesia, merapatkan barisan dan merawat persatuan untuk menuju Indonesia Emas 2045," tutup Dudung.



