Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump campur tangan dalam keputusan disiplin FIFA. Trump meminta FIFA meninjau ulang kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun, dalam kemenangan atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar. FIFA kemudian mencabut skorsing otomatis Balogun, memicu kemarahan Belgia yang menjadi lawan AS di perempat final, serta kritik luas dari dunia sepak bola.
Campur Tangan Trump dan Keputusan FIFA
Dalam pernyataan di Gedung Putih pada 6 Juli 2026, Trump membenarkan bahwa ia meminta FIFA meninjau sanksi terhadap Balogun. "Menurut saya, itu adalah dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling terjerat," kata Trump. FIFA kemudian mencabut peraturan yang melarang banding atas kartu merah dan menyatakan skorsing Balogun ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun, berdasarkan Pasal 27 yang memungkinkan penangguhan sanksi disiplin. Keputusan ini keluar kurang dari 48 jam sebelum AS menghadapi Belgia.
Kemarahan Belgia dan Kritik UEFA
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) mengeluarkan pernyataan keras, menyebut mereka "tercengang". Pelatih Belgia Rudi Garcia menyindir, "Saya tidak tahu kalau 5 Juli itu sama dengan 1 April di FIFA." RBFA mengajukan banding, tetapi FIFA menolaknya beberapa jam sebelum laga. UEFA menyebut keputusan itu "melewati garis merah". Pelatih Norwegia Stale Solbakken mengkritik FIFA, sementara Presiden DFB Bernd Neuendorf mendesak klarifikasi atas keterlibatan Trump.
Hasil Pertandingan dan Dampak
Belgia mengalahkan AS 4-1 di Seattle, dengan Charles De Ketelaere mencetak dua gol. Kekalahan ini menandai akhir perjalanan AS sebagai tuan rumah terakhir yang tersingkir. Presiden FIFA Gianni Infantino membantah pengaruh Trump, menegaskan keputusan berasal dari komite disiplin independen. Namun, kasus Balogun berpotensi menjadi preseden, dengan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dilaporkan mempertimbangkan banding atas kartu kuning Michael Olise.



