Rusia Umumkan Gencatan Senjata Dua Hari di Ukraina
Rusia secara resmi mengumumkan gencatan senjata sepihak dengan Ukraina selama dua hari, tepatnya pada 8 hingga 9 Mei 2026. Langkah ini diambil dalam rangka memperingati Hari Kemenangan Perang Dunia II yang ke-81. Namun, Rusia juga memberikan ancaman serius jika gencatan senjata tersebut dilanggar oleh pihak Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa keputusan ini diambil langsung oleh Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, Vladimir Putin. Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui aplikasi pesan MAX, mereka menegaskan harapan agar Ukraina turut serta mematuhi gencatan senjata tersebut.
“Kami berharap pihak Ukraina akan mengikuti langkah ini,” tulis pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dilansir AFP pada Selasa (5/5/2026).
Ancaman Serangan Balasan Besar-besaran
Rusia memperingatkan akan memberikan serangan balasan besar-besaran jika Ukraina melanggar gencatan senjata. Mereka secara khusus menyasar pusat kota Kyiv sebagai target potensial. Warga sipil Kyiv dan staf misi diplomatik asing diimbau untuk segera melakukan evakuasi.
“Jika rezim Kyiv mencoba melaksanakan rencana kriminalnya untuk mengganggu perayaan peringatan ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan serangan rudal balasan besar-besaran ke pusat kota Kyiv,” ujar pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.
Latar Belakang Gencatan Senjata
Presiden Rusia Vladimir Putin pertama kali mengusulkan gencatan senjata ini pekan lalu saat melakukan panggilan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ukraina sebelumnya menyatakan akan meminta rincian lebih lanjut dari Washington mengenai tawaran tersebut.
Konflik antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut dengan saling serang yang menewaskan empat korban dan menargetkan fasilitas minyak. Gencatan senjata ini diharapkan dapat meredakan ketegangan, meskipun ancaman serangan balasan tetap membayangi.



