Seorang pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat (AS) yang berhasil selamat setelah pesawatnya ditembak jatuh di Iran pada April 2026 memberikan kesaksian mengejutkan. Dalam keterangan yang diungkapkan oleh empat sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada CNN pada Rabu (24/6/2026), pilot tersebut mengatakan bahwa ia melihat drone-drone Iran membentuk formasi menyerupai 'ubur-ubur' sesaat sebelum ia melontarkan diri dari jet tempurnya. Keterangan ini belum pernah dilaporkan sebelumnya dan langsung memicu perdebatan sengit di dalam komunitas intelijen AS.
Kesaksian Pilot F-15 AS
Menurut sumber-sumber tersebut, pilot menyampaikan pengalamannya kepada para pejabat intelijen AS dalam sebuah briefing setelah insiden penyelamatannya. Formasi drone Iran yang digambarkan seperti 'ubur-ubur' tersebut dianggap tidak biasa dan menimbulkan spekulasi mengenai kemampuan taktis Iran. Hingga kini, perdebatan di kalangan intelijen AS mengenai interpretasi dari formasi tersebut belum terselesaikan.
Israel Ancam Bertindak Sendiri Melawan Iran
Dalam perkembangan terpisah, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyebut Amerika Serikat 'sangat naif' jika percaya Iran akan meninggalkan program nuklirnya. Dalam wawancara dengan televisi Israel Channel 7 seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (24/6/2026), Ben-Gvir mengisyaratkan bahwa Israel mungkin akan bertindak sendiri melawan Teheran. 'Menjadi tanggung jawab Israel untuk menghadapi ancaman Iran ini dan bertindak sendiri melawannya,' tegas menteri garis keras Israel itu.
AS Tolak Tarif Iran atas Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima pungutan tarif Iran atas Selat Hormuz. Perselisihan mengenai jalur air vital ini, bersama dengan isu inspeksi nuklir dan rudal, telah menjadi sumber ketegangan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. AS dan Iran telah menandatangani perjanjian pendahuluan untuk menghentikan konflik dan menyelesaikan putaran pertama pembicaraan di Swiss, membuka periode negosiasi 60 hari tentang pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan masa depan Selat Hormuz. Blokade Iran atas selat tersebut selama perang dengan AS-Israel sempat menyebabkan lonjakan harga minyak global, namun lalu lintas kapal mulai meningkat sejak kesepakatan damai ditandatangani.
Senat AS Sahkan Resolusi Setop Perang Iran
Senat Amerika Serikat mengesahkan resolusi yang menyerukan diakhirinya perang Presiden Donald Trump terhadap Iran. Resolusi ini menjadi teguran baru bagi Gedung Putih di tengah upaya negosiasi penyelesaian perang dengan Teheran. Dilansir AFP pada Rabu (24/6/2026), rancangan undang-undang yang sebelumnya disahkan DPR tersebut disetujui Senat dengan suara 50 setuju dan 48 menolak pada Selasa (23/6) waktu setempat. Resolusi ini mengarahkan Trump untuk menarik pasukan AS dari permusuhan dengan Iran, kecuali Kongres secara eksplisit mengizinkan tindakan militer. Namun, resolusi ini sebagian besar bersifat simbolis karena tidak sampai ke meja Trump untuk ditandatangani, sehingga kekuatan hukumnya masih diperdebatkan.
Denmark Kerahkan Wajib Militer ke Greenland
Pemerintah Denmark mengumumkan akan mulai mengerahkan wajib militer ke Greenland, wilayah otonomi Denmark yang diincar oleh Presiden AS Donald Trump. Menteri Pertahanan Denmark Jeppe Bruus, dalam tanggapannya terhadap pertanyaan parlemen seperti dilansir AFP pada Rabu (24/6/2026), menyatakan bahwa 'wajib militer akan dikerahkan bersama tentara profesional dan akan berpartisipasi penuh dalam semua misi.' Sebelumnya, stasiun televisi Denmark TV2 melaporkan bahwa militer sedang mempertimbangkan pengiriman wajib militer ke Greenland, di mana kehadiran militer telah diperkuat sebagai respons terhadap tekanan dari Amerika Serikat.



