Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pertama kalinya memasukkan Israel dan Rusia ke dalam daftar hitam pelaku kekerasan seksual dalam konflik bersenjata. Langkah tersebut tertuang dalam laporan tahunan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 29 Mei 2026 waktu setempat.
Daftar Hitam Mencakup 77 Aktor
Laporan tersebut menempatkan 77 aktor negara maupun non-negara dari belasan negara dalam daftar pelaku yang diduga terlibat kekerasan seksual terkait konflik. PBB mencatat jumlah kasus pada 2025 meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Tuduhan terhadap Israel
Dalam laporan itu, pasukan keamanan dan militer Israel dituduh melakukan pola kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Bentuk pelanggaran yang disebut antara lain pemerkosaan, termasuk menggunakan benda, pemerkosaan berkelompok, percobaan pemerkosaan, kekerasan terhadap alat kelamin, penelanjangan paksa, hingga ancaman pemerkosaan. PBB menyebut pelaku berasal dari unsur militer Israel, aparat keamanan, dan petugas penjara.
Reaksi Israel
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengakui negaranya resmi dimasukkan ke dalam daftar tersebut, sejajar dengan kelompok Hamas. Dia mengecam laporan itu sebagai "memalukan dan absurd" dan menuding Antonio Guterres menyamakan Israel dengan Hamas, ISIS, dan organisasi teroris paling brutal di dunia. "Kami selesai dengan Sekretaris Jenderal PBB ini," ujar Danon melalui media sosial. "Ini keputusan politik, terlepas dari fakta dan realitas," tulisnya di platform X. Menurut misi Israel di PBB, informasi itu disampaikan langsung oleh Guterres melalui telepon.
Hamas, yang oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Israel dikategorikan sebagai organisasi teroris, tetap berada dalam daftar hitam PBB sejak serangan 7 Oktober 2023 ke Israel. Namun, laporan itu menyebut banyak tuduhan terhadap Hamas belum dapat diverifikasi secara independen karena Israel belum memberi akses penuh kepada penyelidik PBB.
Laporan PBB itu terbit hanya beberapa hari setelah The New York Times mempublikasikan investigasi mengenai dugaan pelecehan seksual sistematis terhadap tahanan Palestina di penjara Israel. Dalam pernyataan terpisah pada Kamis, Danon menilai penyamaan Israel dengan Hamas sebagai "titik terendah baru" dalam hubungan dengan PBB.
Tuduhan terhadap Rusia
Di sisi lain, PBB juga mencatat 310 kasus kekerasan seksual yang dilakukan pasukan Rusia terhadap tahanan perang dan warga sipil Ukraina. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan tanpa dasar" untuk terus menggambarkan Rusia sebagai pihak jahat. Nebenzia mengatakan Moskow tengah menyiapkan laporan tandingan mengenai perlakuan Ukraina terhadap tawanan perang Rusia.
Negara Lain dalam Daftar
Meski tidak dimasukkan ke daftar hitam, laporan PBB turut mencatat 31 kasus yang melibatkan aparat keamanan Ukraina, sebagian besar terjadi sebelum 2025. Selain Israel dan Rusia, daftar tersebut juga mencakup Sudan, Haiti, Republik Demokratik Kongo, Myanmar, Suriah, dan Mali.



