Mendikdasmen: Julukan Fisik di Sekolah Tergolong Perundungan
Mendikdasmen: Julukan Fisik di Sekolah Tergolong Bullying

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa kebiasaan memanggil seseorang dengan julukan yang merujuk pada kondisi fisik dapat dikategorikan sebagai perundungan atau bullying. Oleh karena itu, sekolah didorong untuk terus membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Julukan Fisik sebagai Bentuk Perundungan

Mu'ti menilai banyak candaan yang selama ini dianggap wajar di lingkungan sekolah justru berpotensi melukai perasaan peserta didik. Contohnya adalah penggunaan julukan yang menyinggung kondisi fisik seseorang dengan dalih bercanda. “Ya, kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan harassment. Misalnya, 'Eh si kuntet!' Itu kan maunya melucu, tetapi itu harassment, itu bullying sebenarnya,” kata Mu'ti dalam kegiatan Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman Tanpa Diskriminasi

Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik tanpa adanya diskriminasi, baik yang berkaitan dengan penampilan fisik maupun kemampuan akademik. Setiap murid memiliki bakat, kemampuan, dan potensi yang berbeda sehingga harus dihargai secara setara. Kemendikdasmen mendorong sekolah untuk memperkuat budaya yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Budaya Humanis dan Inklusif di Sekolah

Budaya tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memuliakan setiap warga sekolah, mulai dari murid, guru, hingga tenaga kependidikan. Melalui pendekatan tersebut, Mu'ti berharap proses belajar dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan tanpa harus merendahkan atau menyakiti orang lain. Sekolah harus menjadi tempat yang merayakan keberagaman dan memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

“Kami ingin semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” ujarnya, dilansir Antara.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga