Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang bagian selatan, pada Selasa (28/7/2026) sore telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Hingga Rabu pagi, Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Bencana ini juga menyebabkan puluhan ribu rumah kehilangan aliran listrik dan suplai air bersih.
Gempa utama yang terjadi pada pukul 14.30 waktu setempat tersebut memicu serangkaian gempa susulan yang terus berlangsung. JMA mencatat lebih dari 60 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi, mulai dari yang tidak terasa hingga yang cukup kuat untuk mengguncang bangunan. Peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama akhirnya dicabut pada Rabu pagi setelah tidak terdeteksi adanya gelombang signifikan.
Dampak dan Kerusakan Akibat Gempa
Gempa Kumamoto telah meluluhlantakkan sejumlah bangunan di wilayah terdampak. Banyak rumah mengalami kerusakan struktur, terutama yang dibangun dengan material tradisional. Pemerintah setempat mendirikan pusat evakuasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai ribuan orang.
Selain korban jiwa, gempa juga melukai sedikitnya 400 orang, menurut data dari otoritas setempat. Rumah sakit di Kumamoto dan sekitarnya kewalahan menerima pasien yang mengalami cedera akibat reruntuhan dan kepanikan. Tim penyelamat dari berbagai daerah dikerahkan untuk mencari korban yang mungkin masih tertimbun.
Gangguan infrastruktur menjadi masalah besar pasca-gempa. Sekitar 30.000 rumah dilaporkan mengalami pemadaman listrik, sementara lebih dari 20.000 rumah kehilangan akses air bersih. Perusahaan listrik dan air setempat berupaya melakukan perbaikan, namun diperkirakan butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan layanan sepenuhnya.
Tanggapan Otoritas dan Peringatan Tsunami
JMA segera mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa utama, mengingat pusat gempa berada di laut tidak jauh dari pesisir Kumamoto. Warga di wilayah pesisir diimbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Namun, setelah memantau beberapa jam, JMA memastikan bahwa tidak terjadi tsunami yang membahayakan sehingga peringatan dicabut.
Kepala JMA dalam pernyataan resmi mengatakan, "Kami terus memantau aktivitas seismik. Meski peringatan tsunami sudah dicabut, masyarakat harus tetap waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan." Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa bahaya belum sepenuhnya berlalu.
Gempa Susulan dan Kewaspadaan Berkelanjutan
Deretan gempa susulan yang mencapai lebih dari 60 kali dalam waktu kurang dari 24 jam menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di wilayah tersebut masih tinggi. Beberapa gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5,0, cukup untuk menyebabkan kerusakan tambahan pada bangunan yang sudah rapuh.
Penduduk Kumamoto diimbau untuk tidak kembali ke rumah mereka sebelum dinyatakan aman oleh petugas. Pemerintah Jepang juga mengaktifkan pusat komando darurat untuk mengkoordinasikan bantuan dan logistik. Bantuan berupa makanan, selimut, dan obat-obatan mulai didistribusikan ke lokasi-lokasi pengungsian.
Para ahli seismologi dari JMA memperingatkan bahwa gempa susulan dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Masyarakat diminta untuk selalu siap siaga dan mengikuti arahan dari otoritas setempat. Gempa Kumamoto tahun 2026 ini menjadi pengingat akan risiko bencana seismik di Jepang yang memang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik.



