Ancaman perang besar kembali membayangi Yaman setelah kelompok Houthi meningkatkan mobilisasi pasukan dan melancarkan serangkaian aksi militer dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu (22/7/2026), Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap dua kapal Arab Saudi di Laut Merah. Kelompok tersebut mengeklaim kedua kapal telah melanggar blokade yang mereka berlakukan terhadap pelabuhan Saudi.
Mobilisasi Pasukan dan Serangan Rudal Houthi
Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas pelanggaran blokade oleh kapal-kapal Saudi. Ia menegaskan bahwa Houthi akan terus menargetkan kapal-kapal yang melanggar blokade, yang diberlakukan sejak awal konflik untuk menekan Arab Saudi. Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam kemampuan militer Houthi, yang telah mengembangkan sistem rudal dan drone canggih selama perang yang berlangsung sejak 2014.
Para analis militer menilai bahwa serangan di Laut Merah menunjukkan peningkatan jangkauan dan akurasi persenjataan Houthi. Laut Merah merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan global, dan serangan terhadap kapal Saudi menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya keamanan maritim. Hingga berita ini diturunkan, Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi, namun sumber intelijen menyebut bahwa Riyadh sedang mempertimbangkan peningkatan patroli angkatan laut di kawasan tersebut.
Bentrokan Mematikan di Provinsi Dhale
Pada waktu hampir bersamaan, bentrokan pecah antara pasukan Houthi dan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman di Provinsi Dhale, wilayah barat daya negara itu. Pertempuran tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 30 orang dari kedua pihak. Menurut sumber medis setempat, sebagian besar korban adalah kombatan, namun beberapa warga sipil juga dilaporkan tewas akibat tembakan roket yang mengenai permukiman penduduk.
Provinsi Dhale selama ini menjadi medan pertempuran sengit antara Houthi dan pasukan pro-pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi. Bentrokan terbaru ini terjadi setelah Houthi melancarkan serangan untuk merebut wilayah yang dikuasai pemerintah. Pemerintah Yaman yang diakui internasional telah mengutuk tindakan Houthi dan meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera turun tangan. Namun, upaya perdamaian yang dimediasi oleh PBB masih menemui jalan buntu karena kedua pihak bersikeras pada tuntutan masing-masing.
Dampak terhadap Stabilitas Regional
Eskalasi ini berpotensi memicu perang skala penuh di Yaman dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah. Koalisi pimpinan Saudi yang telah melakukan intervensi sejak 2015 kemungkinan akan meningkatkan operasi militernya sebagai respons. Sementara itu, Iran yang menjadi pendukung utama Houthi, telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kelompok tersebut akan berakibat serius. Situasi kemanusiaan di Yaman, yang sudah menjadi salah satu krisis terburuk di dunia, diprediksi akan semakin memburuk dengan meningkatnya pertempuran.
Lebih dari 150.000 orang telah tewas akibat konflik ini sejak 2014, dan jutaan lainnya mengungsi. Jika ketegangan saat ini tidak segera diredam, korban sipil diprediksi akan bertambah. Masyarakat internasional mendesak gencatan senjata segera dan kembalinya negosiasi perdamaian, namun tampaknya belum ada tanda-tanda mereda. Houthi tetap berkomitmen pada perjuangan mereka, sementara pemerintah Yaman dan koalisi Saudi bersikukuh pada tuntutan perlucutan senjata kelompok tersebut.



