Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa gempa kembar (doublet earthquake) yang mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam merupakan salah satu jenis gempa yang paling merusak. Ia menjelaskan, gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,5 didahului oleh gempa pendahuluan berkekuatan M 7,2 dengan selang waktu hanya sekitar 40 detik. Rangkaian dua gempa besar tersebut melumpuhkan wilayah terdampak dalam waktu singkat. Rumah-rumah warga runtuh, sejumlah bangunan dan infrastruktur penting rusak berat, terutama di kawasan pesisir La Guaira dan ibu kota Caracas.
Mekanisme Gempa Kembar yang Mematikan
Menurut Daryono, gempa kembar terjadi ketika dua gempa besar dengan magnitudo hampir sama mengguncang lokasi yang berdekatan dalam waktu singkat. “Gempa utama M 7,5 terjadi hanya 40 detik setelah gempa pendahuluan M 7,2. Ini membuat respons darurat sangat sulit karena guncangan pertama sudah menyebabkan kerusakan, lalu disusul guncangan kedua yang lebih besar,” ujarnya. Ia menambahkan, jenis gempa ini lebih destruktif dibandingkan gempa tunggal karena energi akumulatif yang dilepaskan dalam waktu singkat.
Dampak di Venezuela: La Guaira dan Caracas Lumpuh
Dampak terparah dilaporkan di kawasan pesisir La Guaira dan ibu kota Caracas. Bangunan-bangunan yang sudah retak akibat gempa pertama runtuh total saat gempa kedua terjadi. Infrastruktur vital seperti jembatan, jalan raya, dan jaringan listrik mengalami kerusakan parah. Data sementara menunjukkan sedikitnya 200 bangunan ambruk dan lebih dari 500 lainnya mengalami kerusakan berat. Tim penyelamat masih berupaya menjangkau korban yang terperangkap di bawah reruntuhan.
Daryono menekankan bahwa gempa kembar jarang terjadi namun memiliki potensi kerusakan yang sangat besar. “Kombinasi dua gempa besar dalam selang waktu singkat membuat tanah tidak punya waktu untuk stabil, sehingga efek likuifaksi dan keruntuhan tanah lebih ekstrem,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa wilayah dengan sejarah gempa besar perlu mewaspadai fenomena serupa.
Peringatan untuk Wilayah Rawan Gempa
Kejadian ini menjadi pengingat bagi negara-negara yang berada di jalur gempa, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan gempa kembar. Sistem peringatan dini dan konstruksi bangunan tahan gempa harus dirancang untuk menghadapi guncangan beruntun. IABI mendorong pemerintah daerah untuk melakukan simulasi dan edukasi publik mengenai respons yang tepat saat terjadi gempa susulan dalam waktu dekat.



