Demonstrasi besar-besaran terjadi di Serbia. Puluhan ribu warga turun ke jalan memprotes pemerintah dan menuntut pemilihan umum dipercepat. Aksi ini dipicu oleh bencana stasiun kereta api Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang, yang kemudian memicu protes antikorupsi dan menuntut penyelidikan transparan.
Latar Belakang Protes
Bencana tersebut memaksa Perdana Menteri saat itu, Milos Vucic, mengundurkan diri. Presiden Serbia Aleksandar Vucic kemudian menindak keras para demonstran. Kini, mahasiswa memimpin gerakan antikorupsi dan demonstrasi telah berkembang menjadi kampanye untuk mendorong Vucic mengadakan pemilihan umum dini. Vucic mengatakan bahwa pemungutan suara dapat diadakan antara September dan November tahun ini.
Aksi di Beograd
Para demonstran membanjiri alun-alun pusat di ibu kota, Beograd, dari berbagai arah. Banyak dari mereka membawa spanduk dan mengenakan kaos bertuliskan motto 'Mahasiswa menang' dari gerakan pemuda. Konvoi mobil juga memasuki Beograd dari kota-kota Serbia lainnya pada Sabtu pagi waktu setempat.
Lokasi demonstrasi pada Sabtu adalah Lapangan Slavija di Beograd yang merupakan tempat protes antipemerintah besar-besaran pada Maret 2025. Aksi unjuk rasa tersebut berakhir dengan gangguan mendadak yang kemudian dikatakan oleh para ahli melibatkan penggunaan senjata sonik terhadap demonstran damai. Pemerintah Serbia membantah hal itu.
Rencana Mahasiswa
Para mahasiswa mengatakan mereka berencana untuk menantang Vucic dalam pemilihan umum akhir tahun ini atau tahun depan. Mereka berharap dapat menggulingkan pemerintahan populis sayap kanan. Vucic, para pejabat pemerintah, dan media pro-pemerintah telah mencap para kritikus sebagai 'teroris' dan agen asing yang ingin menghancurkan negara. Retorika itu telah meningkatkan polarisasi politik.
Tindakan Pemerintah
Perusahaan kereta api negara Serbia juga telah membatalkan semua kereta api ke dan dari Beograd pada Sabtu sebagai upaya mencegah sebagian orang datang dari bagian lain negara Balkan tersebut. Pada malam harinya, bentrokan sporadis terjadi antara pengunjuk rasa dan polisi di dekat gedung kepresidenan dan di luar taman tempat pendukung Vucic berkemah sejak Maret tahun lalu.
Polisi menembakkan gas air mata dan granat kejut saat mereka mendorong mundur para pengunjuk rasa lebih jauh ke jalan. Para pengunjuk rasa juga membakar sampah di area demo.
Reaksi Internasional
Presiden Serbia telah menghadapi pengawasan internasional atas pendekatan garis kerasnya terhadap para demonstran. Komisaris Dewan Eropa untuk hak asasi manusia, Michael O'Flaherty, mengkritik pemerintah Serbia dalam sebuah laporan minggu ini dan mengatakan dia 'akan memantau situasi dengan cermat' pada Sabtu.
Serbia secara resmi berupaya masuk ke Uni Eropa, tetapi tetap mempertahankan hubungan dekat dengan Rusia dan China. Kemunduran demokrasi di bawah Vucic dinilai merugikan negara tersebut sekitar 1,5 miliar euro dari pendanaan Uni Eropa.



