Presiden Bolivia Rodrigo Paz telah mendeklarasikan keadaan darurat nasional setelah gelombang demonstrasi di negara itu berlangsung selama beberapa pekan. Status darurat ini memberi militer wewenang untuk membuka blokade yang dilakukan demonstran, yang telah mengganggu pasokan makanan dan bahan bakar.
Menurut laporan Aljazeera, Minggu (21/6/2026), barikade demonstrasi yang didirikan di jalan-jalan utama secara efektif mengisolasi ibu kota administratif, La Paz. Para demonstran menuntut Paz mundur karena kebijakan penghematan yang dinilai telah melumpuhkan perekonomian selama 50 hari terakhir.
Pidato Presiden dan Alasan Darurat
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu (20/6) pagi, Paz menyatakan bahwa blokade anti-pemerintah bukan lagi sekadar protes sosial, melainkan upaya terorganisir untuk menggoyahkan demokrasi Bolivia. "Ini bukan keadaan darurat untuk membatasi kehidupan masyarakat. Ini adalah keadaan darurat untuk mengembalikan kebebasan masyarakat," ujarnya.
Paz menegaskan bahwa darurat ini bertujuan memastikan pasokan bahan bakar yang terganggu akibat blokade jalan yang menghambat truk tangki. Dekrit tersebut akan berlaku selama 90 hari, namun dapat dicabut lebih awal jika "kekerasan dan ancaman terhadap penduduk berakhir," demikian pernyataan pemerintah.
Isi Dekrit dan Dampak Protes
Dekrit tersebut secara spesifik melarang "memblokir jalan, jalur, dan jalan raya dengan cara yang memengaruhi transportasi dan pasokan." Perintah itu juga menginstruksikan angkatan bersenjata untuk sementara mendukung polisi "dalam memulihkan ketertiban, membuka kembali jalan, dan melindungi penduduk."
Selama lima minggu terakhir, gelombang protes meletus menentang langkah-langkah penghematan Paz, termasuk pembatalan subsidi bahan bakar dan masalah lainnya. Protes ini telah menyebabkan konfrontasi kekerasan antara demonstran dan polisi anti huru hara, mengakibatkan 365 penangkapan dan 37 luka-luka, menurut pihak berwenang.
Setidaknya 17 orang juga meninggal, sebagian besar terkait dengan kurangnya perawatan medis akibat gangguan transportasi, kata kantor ombudsman Bolivia dan organisasi hak asasi manusia. Selama protes berlangsung, bisnis tutup, rak-rak supermarket kosong, dan rumah sakit kehabisan oksigen. Beberapa sektor masyarakat telah menyerukan Paz untuk memulihkan ketertiban melalui kekerasan.



