AS dan Iran Cekcok di PBB Soal Program Nuklir Teheran
AS-Iran Cekcok di PBB Soal Program Nuklir

New York – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat perseteruan sengit di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait program nuklir Teheran. Ketegangan memuncak ketika AS memprotes keras terpilihnya Iran sebagai salah satu dari puluhan wakil presiden dalam konferensi selama sebulan untuk meninjau Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Konferensi NPT ke-11 Digelar di New York

Konferensi ke-11 untuk meninjau implementasi NPT, yang mulai berlaku pada tahun 1970, resmi dimulai pada Senin (27/4/2026) waktu setempat di markas besar PBB di New York, AS. Berbagai kelompok menominasikan 34 wakil presiden konferensi, dengan ketua konferensi, Duta Besar Vietnam untuk PBB Do Hung Viet, menyatakan bahwa Iran dipilih oleh "kelompok negara-negara non-blok dan negara-negara lainnya."

AS Sebut Pemilihan Iran sebagai Penghinaan

Asisten sekretaris untuk Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, Christopher Yeaw, dalam pidatonya di konferensi tersebut mengecam terpilihnya Iran sebagai "penghinaan" terhadap NPT. Ia menegaskan bahwa "tidak dapat disangkal bahwa Iran telah sejak lama menunjukkan penghinaan terhadap komitmen non-proliferasi NPT" dan telah menolak bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB untuk menyelesaikan pertanyaan tentang program nuklir Teheran. Yeaw menyebut terpilihnya Iran sebagai "hal yang sangat memalukan dan mencoreng kredibilitas konferensi ini."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Iran Membalas Tuduhan AS

Menanggapi pernyataan AS, Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, menolak tuduhan tersebut sebagai "tidak berdasar dan bermotif politik." Najafi menyatakan, "Tidak dapat dibenarkan bahwa Amerika Serikat, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, dan negara yang terus memperluas serta memodernisasi persenjataan nuklirnya... berupaya memposisikan diri sebagai penengah kepatuhan."

Isu Nuklir Iran dan Konflik dengan AS-Israel

Isu nuklir telah menjadi inti dari perang yang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran. Presiden Donald Trump kembali menegaskan pada Minggu (26/4) bahwa Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Iran sejak lama menuntut AS mengakui haknya untuk memperkaya uranium, yang menurut Teheran hanya untuk tujuan damai. Namun, negara-negara Barat khawatir hal itu dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. Iran berulang kali bersikeras bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir, tetapi IAEA dan komunitas intelijen Washington secara terpisah menilai bahwa Teheran memiliki program pengembangan senjata nuklir yang ditutup pada tahun 2003.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga