Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA) menyusul aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran pada Kamis (07/05) malam hingga Jumat (08/05) di sekitar Selat Hormuz.
Ledakan di Pesisir Iran
Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di sepanjang pesisir Iran, termasuk di sebuah pulau strategis di Selat Hormuz. Media Iran menyebut dentuman keras terdengar di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas, sementara aparat militer dilaporkan terlibat baku tembak dengan pihak yang disebut sebagai "musuh" di Pulau Qeshm, yang memiliki populasi sekitar 150.000 jiwa. Pulau tersebut memiliki posisi penting di Teluk Persia dan menjadi lokasi fasilitas vital seperti pabrik desalinasi air.
AS Mencegat Serangan Iran
Di saat yang sama, militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah mencegat serangan Iran yang menargetkan tiga kapal Angkatan Laut AS di Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyatakan serangan tersebut melibatkan rudal, drone, dan perahu kecil, namun tidak ada kapal yang terkena. Sebagai respons, AS melancarkan apa yang disebut sebagai "serangan untuk membela diri" dengan menargetkan fasilitas militer Iran yang diduga terkait dengan serangan tersebut.
Klaim Berbeda dari Iran dan AS
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Tehran menyatakan telah melakukan serangan balasan, namun menegaskan bahwa situasi saat ini telah kembali terkendali. Di sisi lain, pihak militer AS mengungkapkan bahwa tiga kapal perusak mereka menjadi sasaran serangan, meski tidak mengalami kerusakan. Sementara itu, Iran mengklaim serangan yang dilancarkannya menimbulkan "kerusakan signifikan."
Deteksi Titik Api di Selat Hormuz
Dalam perkembangan terpisah, akun OSINT Technical di platform X melaporkan bahwa peta pemantauan kebakaran milik NASA mendeteksi sejumlah titik api di wilayah Selat Hormuz pascainsiden tersebut. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan asal-usul titik panas tersebut.
Pernyataan Presiden Trump
Pasca serangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata selama satu bulan dengan Iran masih tetap "berlaku." Ia juga berupaya menurunkan eskalasi dengan menyatakan bahwa tindakan militer AS telah "melumpuhkan [Iran]." Di tengah kembali meningkatnya ketegangan, Trump turut menekankan bahwa jalur diplomasi tidak terhenti. Ia mengungkapkan bahwa proses negosiasi dengan Iran masih terus berlangsung. "Kami sedang bernegosiasi dengan Iran," katanya kepada wartawan.
UEA Diserang Iran, Sistem Pertahanan Udara Bereaksi
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) kembali menjadi sasaran serangan yang diduga berasal dari Iran, dengan rudal dan drone dilaporkan mulai terdeteksi sekitar pukul 07.00 waktu setempat (03.00 GMT), Jumat (08/05) pagi. Pihak militer UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya langsung merespons dan secara aktif mencegat ancaman tersebut. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa suara ledakan yang terdengar di berbagai wilayah merupakan hasil intersepsi terhadap rudal balistik, rudal jelajah, serta drone. Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai target spesifik dari serangan tersebut maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Meski situasi keamanan memanas, aktivitas penerbangan terpantau tetap berjalan. Data dari FlightRadar24 dan informasi Bandara Dubai menunjukkan pesawat masih melakukan pendaratan dan lepas landas sekitar pukul 08.00 waktu setempat.
Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata
Di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran menuduh Washington melanggar gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Menurut versi Iran, insiden terbaru berbeda dengan klaim pihak AS. Militer Iran menyatakan bahwa serangan yang menargetkan tiga kapal Angkatan Laut AS merupakan aksi balasan atas serangan sebelumnya terhadap kapal tanker minyak Iran yang tengah berlayar menuju Selat Hormuz. Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa langkah tersebut merupakan respons langsung terhadap tindakan militer AS. Selain itu, Tehran juga menuduh Washington melancarkan serangan udara ke wilayah sipil di sepanjang pesisir, termasuk di Pulau Qeshm, dengan dukungan dari sejumlah negara kawasan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui pernyataan keras. Ia memperingatkan akan melancarkan serangan yang lebih besar jika Tehran tidak segera menyetujui perjanjian damai yang diajukan oleh Washington.



