AS Akui Rudal Tak Cukup untuk Perang Habis-habisan Lawan Iran
AS Akui Rudal Tak Cukup untuk Perang Lawan Iran

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengakui bahwa militer AS tidak memiliki cukup rudal dan amunisi jarak jauh untuk mempertahankan operasi perang skala penuh melawan Iran. Pengakuan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan.

Keterbatasan Amunisi AS

Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan pemerintah mengungkapkan bahwa operasi militer akan dibatasi oleh menipisnya persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh. "Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," kata pejabat tersebut kepada The Washington Post, seperti dilansir The Telegraph, Selasa (21/7/2026).

Meskipun demikian, CENTCOM pada Selasa mengumumkan bahwa militernya menargetkan "pusat komando militer Iran, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara." Militer AS juga merilis rekaman terbaru serangan udara terhadap sejumlah lokasi di Iran. "Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka," tulis CENTCOM.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Iran Melancarkan Serangan Balasan

Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyerang target-target di Bahrain, Yordania, dan Suriah. IRGC bersumpah akan memberi AS "pelajaran yang tak terlupakan" yang akan mencegah siapa pun yang berupaya melakukan agresi terhadap Iran. "Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan 'pelajaran yang tak terlupakan'... pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya," demikian pernyataan IRGC.

IRGC juga menegaskan tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janjinya untuk mencapai penyelesaian melalui negosiasi. "Kami berjanji bahwa... kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran," kata IRGC.

Perang Skala Penuh Menurut Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran terlibat dalam "perang skala penuh" dengan AS, dan Washington harus menerima konsekuensi dari konflik tersebut. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian, seperti dikutip dalam pernyataan resmi kepresidenan.

Pezeshkian menilai tantangan terbesar yang kini dihadapi Iran bukan hanya di medan militer, melainkan juga di bidang ekonomi. "Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," katanya.

Diplomasi di Balik Layar

Meskipun konflik semakin memanas, kedua belah pihak telah memberi sinyal bahwa diplomasi terus berlanjut di balik layar. Presiden AS Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi untuk melancarkan "perang yang lebih luas" melawan Teheran, seiring dengan semakin banyaknya pesawat tempur Amerika yang dikerahkan ke Timur Tengah. Namun, keterbatasan amunisi menjadi faktor penghambat utama.

Serangan AS terhadap Iran telah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut, semakin mendekati perang habis-habisan di kawasan tersebut. IRGC terus menggempur pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Yordania, dan Suriah, meningkatkan ketegangan di seluruh Timur Tengah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga