Wawancara Eksklusif Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Saya Tidak Ingin Dihormati karena Jabatan
Abdul Mu'ti: Saya Tidak Ingin Dihormati karena Jabatan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti memiliki gaya hidup yang tidak biasa di kalangan pejabat. Di tengah kultur pejabat yang identik dengan konvoi kendaraan dinas, protokol ketat, dan suite hotel berbintang, ia memilih naik MRT. Bukan sekali, bukan untuk pencitraan, dan bukan karena tidak ada pilihan lain. Profesor sekaligus Sekretaris Umum Muhammadiyah itu sudah terbiasa dengan kesederhanaan sejak sebelum dilantik menjadi menteri.

Kesederhanaan itu bukan sekadar gaya hidup, melainkan filosofi yang ia pegang dengan sadar. Ia mengutip pepatah Jawa: ajining raga ana ing busana, ajining diri ana ing lathi, bahwa seseorang dihormati bukan karena jabatan, melainkan karena perilaku dan tutur katanya.

Filosofi Hidup Sederhana

Ketika berkunjung ke daerah, ia menginap di balai atau UPT kementerian, bukan di hotel. Kalau terpaksa di hotel, bukan bintang lima, bukan suite. Pernah suatu malam ia menginap di hotel praktik SMK Negeri, dan ia menikmatinya dengan tulus sambil mengamati langsung bagaimana siswa jurusan perhotelan berlatih.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Di dalam MRT itulah lahir kisah yang kini sering ia ceritakan dengan tawa. Seorang penumpang duduk di sebelahnya, menatap ragu-ragu, lalu diam-diam membuka Google, mengetik nama "Abdul Mu'ti", membandingkan foto hasil pencarian dengan wajah orang di sampingnya, dan baru setelah yakin ia menyapa: "Pak Mu'ti mau ke mana?" Bagi sang penumpang, seorang Sekretaris Umum Muhammadiyah, apalagi seorang menteri, seharusnya tidak naik MRT. Fakta bahwa ia ada di sana terasa mustahil sehingga perlu diverifikasi lewat mesin pencari. Mu'ti tertawa mengisahkan momen itu. Tapi di balik tawa itu ada kesadaran yang serius: jabatan adalah amanah yang tidak tahu kapan berakhir, dan kemewahan yang menempel pada jabatan akan membuat seseorang "kaget" ketika jabatan itu pergi. Ia tidak ingin kaget. Ia ingin tetap menjadi dirinya, guru, akademisi, dan kini menteri, yang menjalani hidup dengan prinsip sederhana: banyak kurang, sedikit cukup.

Realita Pendidikan Indonesia

Hampir dua tahun menjabat, Mu'ti melihat problem utama pendidikan Indonesia adalah kualitas yang belum sesuai harapan. Masyarakat memiliki kriteria berbeda mengenai kualitas, mulai dari capaian akademik seperti skor PISA, karakter, serapan di dunia kerja, hingga pemerataan. Semua itu menjadi bagian aspirasi yang harus diselesaikan secara bertahap.

Ia setuju 100% dengan pentingnya guru dalam menentukan kualitas pendidikan. Guru tidak bisa digantikan oleh teknologi. Guru adalah agen belajar dan agen peradaban. Dua tahun berturut-turut tema Hari Guru tidak diubah, yaitu "Guru Hebat, Indonesia Kuat".

Prioritas Peningkatan Kualitas Guru

Ada tiga prioritas utama. Pertama, pemenuhan kualifikasi guru. Masih ada ratusan ribu guru yang belum D4 atau S1, padahal undang-undang mewajibkan demikian. Kedua, kompetensi guru. Hasil uji kompetensi guru masih belum sesuai harapan. Ketiga, kesejahteraan guru. Mu'ti menyebut masalah guru bersifat flammable, mudah menyulut emosi masyarakat. Akar masalahnya berasal dari sistem otonomi daerah, rekrutmen populis menjelang pilkada, dan pengangkatan yang kurang memperhatikan kompetensi.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah memberikan beasiswa RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) Rp3 juta per semester. Tahun 2025 dialokasikan untuk 12.500 guru, dan tahun 2026 untuk 150.000 guru. Selain itu, ada kebijakan satu hari belajar guru di mana guru tidak mengajar tetapi meningkatkan kompetensi melalui MGMP atau MKKS, yang bisa dibiayai dana BOS.

Pemerataan Pendidikan

Kesenjangan pendidikan terjadi antara daerah, antara negeri dan swasta, serta antar sekolah dalam satu daerah. Revitalisasi sekolah diprioritaskan untuk daerah terdampak bencana, daerah 3T, dan sekolah rusak berat. Distribusi guru juga diatur ulang, guru ASN bisa ditugaskan di sekolah swasta. Pemerintah juga memperkuat PKBM, sekolah satu atap, dan pembelajaran jarak jauh berbasis komunitas dengan bantuan Starlink dan listrik tenaga surya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Deep Learning sebagai Solusi

Mu'ti memperkenalkan deep learning sebagai strategi pembelajaran yang menekankan mindful, meaningful, dan joyful. Ia mencontohkan pembelajaran di Kendari, di mana guru kimia membahas korosi dengan menampilkan gambar jembatan berkarat, sehingga murid tidak hanya menghafal reaksi kimia tetapi juga memahami dampak dan solusi dalam kehidupan nyata.

Penguatan Karakter

Lima kebijakan penguatan karakter meliputi: muatan nilai dan karakter di semua mata pelajaran, semua guru menjadi guru wali, pembentukan pokja sekolah aman dan nyaman, gerakan 7 kebiasaan (bangun pagi, beribadah, olahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat), dan perlindungan guru melalui nota kesepahaman dengan Kapolri.

Legasi yang Ingin Ditinggalkan

Mu'ti ingin meninggalkan empat legasi: perbaikan gedung sekolah yang rusak (target 2028 selesai), penggunaan teknologi modern seperti IFP, peningkatan skor PISA melalui deep learning, dan kesejahteraan guru yang semakin baik. Ia menekankan bahwa semua itu adalah bagian dari proses untuk mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat undang-undang dasar.