Pengungsi Tunanetra Myanmar Tewas Usai Ditahan dan Ditinggalkan di New York
Jakarta - Seorang pengungsi tunanetra asal Myanmar ditemukan meninggal dunia lima hari setelah agen Patroli Perbatasan Amerika Serikat menurunkannya di sebuah toko donat di New York. Insiden tragis ini terjadi dalam kondisi cuaca ekstrem dengan suhu di bawah titik beku, memicu penyelidikan polisi dan keluhan keras terkait penanganan yang dianggap mengabaikan keselamatan individu.
Kronologi Kejadian yang Memilukan
Nurul Amin Shah Alam, berusia 56 tahun, ditahan oleh agen Patroli Perbatasan AS pada tanggal 19 Februari 2026 setelah dibebaskan dari penjara daerah di kota Buffalo. Namun, pada hari yang sama, otoritas federal memutuskan bahwa ia tidak memenuhi syarat untuk dideportasi, sehingga ia dibebaskan. Sayangnya, setelah dibebaskan, ia diturunkan di sebuah toko donat dan ditinggalkan tanpa perlindungan yang memadai.
Lima hari kemudian, tubuhnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Saat itu, suhu di New York dilaporkan mencapai kondisi ekstrem, jauh di bawah titik beku, yang diduga menjadi faktor penyebab kematiannya. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang prosedur dan tanggung jawab agen perbatasan dalam menangani pengungsi, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik seperti tunanetra.
Respon dan Penyidikan yang Berlangsung
Polisi setempat telah membuka penyelidikan menyeluruh terkait kematian Nurul Amin Shah Alam. Keluarga dan kelompok advokasi pengungsi mengeluhkan bahwa ia telah diturunkan dan ditinggalkan tanpa memperhatikan keselamatannya, terutama mengingat kondisi cuaca yang membahayakan. Mereka menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pihak berwenang AS.
Insiden ini menyoroti isu-isu kemanusiaan dalam sistem imigrasi Amerika Serikat, khususnya dalam penanganan pengungsi yang rentan. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang tunanetra dibiarkan sendirian di tempat umum tanpa bantuan atau pengawasan, terutama dalam cuaca yang sangat dingin.
Berita Lain dari Dunia Hari Ini
Selain kasus di atas, edisi Jumat, 27 Februari 2026, juga melaporkan beberapa peristiwa penting lainnya dari berbagai belahan dunia:
- Banjir di Sydney: Puluhan orang diselamatkan dan ribuan properti kehilangan aliran listrik akibat hujan deras dan banjir bandang yang melanda Sydney. Pemadaman listrik terutama berdampak pada warga di pinggiran kota seperti Dural, Sackville, dan Glenwood, serta wilayah selatan di Arncliffe, Banksia, dan Rockdale. Layanan Darurat Negara Bagian (SES) telah melakukan 40 penyelamatan dan menerima lebih dari 490 panggilan bantuan.
- Pemilu di Denmark: Perdana Menteri Mette Frederiksen mengumumkan pemilihan parlemen akan diadakan pada 24 Maret 2026. Ia memanfaatkan lonjakan dukungan atas sikapnya yang menentang tekanan AS terkait Greenland. Jajak pendapat menunjukkan popularitasnya meningkat setelah upayanya menggalang dukungan Eropa melawan keinginan Presiden Donald Trump untuk mencaplok pulau Arktik tersebut.
- Kritik Hillary Clinton: Hillary Clinton mengecam komite Kongres yang dipimpin Partai Republik karena memanggilnya untuk menjawab pertanyaan tentang Jeffrey Epstein, sementara gagal memanggil Presiden Donald Trump. Clinton menyatakan bahwa pemanggilannya hanya untuk mengalihkan perhatian dari tindakan Trump.
Kasus kematian pengungsi tunanetra Myanmar ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan hak asasi manusia dan prosedur yang manusiawi dalam penanganan imigran, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang dapat mengancam nyawa.
