Trump dan Iran Saling Klaim Soal Penentu Akhir Perang, Ketegangan Diplomatik Meningkat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa perang yang dilancarkan terhadap Iran telah mencapai tahap yang sangat tuntas, hampir sepenuhnya berakhir. Namun, Iran membalas dengan pernyataan tegas bahwa pihaknyalah yang akan menentukan kapan konflik dengan AS dan Israel benar-benar berakhir. Pernyataan saling bertolak belakang ini muncul di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dipicu serangan skala besar sejak akhir Februari 2026.
Trump: Perang Sudah Hampir Selesai, Iran Tak Miliki Apa-Apa Lagi
Dalam wawancara telepon dengan CBS News dari klub golfnya di Doral, Florida, Trump menyatakan, "Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya." Dia mengklaim bahwa Iran tidak lagi memiliki angkatan laut, komunikasi, atau angkatan udara yang signifikan. Rudal dan drone Iran disebutnya tinggal sedikit, dengan pabrik pembuatan drone dihancurkan di berbagai lokasi.
Trump juga mengungkapkan bahwa operasi militer AS, yang diberi nama 'Operation Epic Fury', telah menyerang lebih dari 3.000 target di wilayah Iran dalam minggu pertama. "Jika Anda lihat, mereka tidak memiliki apa pun yang tersisa. Tidak ada yang tersisa dalam artian militernya," tegasnya. Dia menambahkan bahwa durasi perang jauh lebih cepat dari perkiraan awal 4-5 minggu, dengan menyebut, "Kita sangat jauh lebih cepat dari jadwal."
Ketika ditanya tentang akhir perang, Trump dengan percaya diri menjawab, "Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan pikiran orang lain." Dia juga enggan berkomentar banyak soal Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dengan mengatakan tidak punya pesan untuknya.
Iran Membalas: Kamilah Penentu Akhir Perang
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung membalas pernyataan Trump melalui pernyataan resmi yang dilansir kantor berita AFP. IRGC menegaskan bahwa merekalah yang akan menentukan akhir perang di Asia Barat. "Kamilah yang akan menentukan akhir perang," kata pernyataan itu, sambil menambahkan bahwa masa depan kawasan berada di tangan angkatan bersenjata Iran, bukan pasukan Amerika.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyuarakan kritik keras terhadap AS dan Israel. Dia menyebut perang yang dilancarkan oleh kedua negara telah gagal total, tanpa tujuan yang jelas. "Rencana A gagal, dan sekarang mereka mencoba rencana lain, tetapi semuanya juga gagal," ujarnya, seperti dilansir Al Jazeera.
Araghchi mengungkapkan bahwa serangan AS dan Israel terhadap daerah permukiman dan infrastruktur energi Iran telah menyebabkan harga minyak dunia meroket. Dia menegaskan bahwa negosiasi dengan AS tidak lagi menjadi agenda Iran, mengingat "pengalaman yang sangat pahit" selama pembicaraan nuklir sebelumnya. "Saya rasa pertanyaan tentang berdialog dengan Amerika sekali lagi tidak akan dipertimbangkan," pungkasnya.
Implikasi dan Latar Belakang Konflik
Ketegangan antara AS dan Iran telah memanas sejak serangan skala besar dilancarkan pada 28 Februari 2026, yang melibatkan Israel sebagai sekutu utama AS. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga mempengaruhi pasar global, terutama terkait harga minyak. Klaim-klaim yang saling bertentangan dari kedua pihak menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh ketidakpastian.
Analis menilai bahwa pernyataan Trump mungkin bertujuan untuk menunjukkan keberhasilan militer AS di mata publik domestik, sementara respons Iran mencerminkan tekad untuk mempertahankan kedaulatan dan pengaruh di kawasan. Eskalasi ini menggarisbawahi kompleksitas hubungan internasional dan potensi risiko konflik yang berkepanjangan.
