Trump Beri Ultimatum ke Iran: Konsekuensi Serius Jika Negosiasi Nuklir Gagal
Trump Ultimatum Iran: Konsekuensi Jika Negosiasi Nuklir Gagal

Trump Beri Peringatan Keras ke Iran Soal Konsekuensi Jika Negosiasi Nuklir Gagal

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum tegas kepada Iran terkait perundingan nuklir yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa akan ada konsekuensi serius yang harus ditanggung oleh Teheran jika negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan yang diinginkan.

Negosiasi Lanjutan di Jenewa dengan Mediasi Oman

Putaran kedua negosiasi antara AS dan Iran dihelat di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026). Pembicaraan ini dimediasi oleh Oman, menyusul ancaman berulang dari Trump tentang kemungkinan tindakan militer terhadap Iran. Isu utama yang dibahas mencakup program nuklir Iran, penindakan brutal terhadap protes anti-pemerintah, serta misil balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Trump menyatakan, "Saya akan terlibat dalam pembicaraan itu, secara tidak langsung," saat berbicara kepada wartawan dalam perjalanannya ke Washington. Dia menambahkan, "Saya tidak berpikir mereka menginginkan konsekuensi jika tak mencapai kesepakatan." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa AS tidak akan ragu untuk mengambil langkah lebih jauh jika diplomasi gagal.

Dukungan AS untuk Serangan Israel Jika Perundingan Buntu

Laporan dari media terkemuka AS, CBS News, mengungkapkan bahwa Trump telah memberitahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Washington akan mendukung serangan Tel Aviv terhadap program rudal Iran jika perundingan dengan Teheran berakhir tanpa kesepakatan. Informasi ini disampaikan saat pertemuan keduanya di resor Mar-a-Lago di Florida pada Desember tahun lalu.

Menurut sumber anonim yang memahami masalah keamanan nasional AS, pembahasan di kalangan pejabat senior militer dan intelijen AS telah bergeser dari pertanyaan apakah Israel dapat melancarkan serangan, menjadi bagaimana Washington dapat memfasilitasi misi tersebut. Elemen kunci dari kerja sama yang diusulkan meliputi:

  • Pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat-pesawat Israel guna memperluas jangkauan operasional.
  • Upaya diplomatik untuk mendapatkan izin lintas udara dari negara-negara berdaulat di sekitar Iran.

Namun, negara-negara kawasan Timur Tengah seperti Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah secara terbuka menolak mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk serangan terhadap Iran.

Peningkatan Kehadiran Militer AS di Timur Tengah

Laporan CBS News muncul bersamaan dengan peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah. AS telah mengerahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln dan berencana mengirimkan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, ke kawasan tersebut. Trump mengumumkan pada Jumat (13/2) bahwa kapal induk itu akan segera bergerak jika perundingan dengan Iran gagal.

"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Kapal induk itu akan segera berangkat," ujar Trump. Pernyataan ini memperkuat ancaman militer yang menggantung di atas negosiasi.

Respons Iran dan Prospek Diplomasi

Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin pagi menyebut bahwa posisi AS terkait masalah nuklir Iran telah bergerak ke arah yang lebih realistis. Meski demikian, Teheran tetap membantah program nuklirnya ditujukan untuk membuat bom, seperti yang dikhawatirkan AS dan beberapa negara Eropa.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump "lebih menyukai diplomasi" terkait Iran, namun ultimatum dan persiapan militer menunjukkan bahwa AS siap dengan opsi lain. Negosiasi di Jenewa ini berlangsung secara tidak langsung, dengan Oman sebagai mediator, mencerminkan ketegangan tinggi yang masih melanda hubungan kedua negara.

Dengan ultimatum Trump dan dukungan potensial untuk Israel, masa depan perundingan nuklir ini menjadi sangat kritis bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Iran kini berada di bawah tekanan besar untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi konsekuensi yang mungkin melibatkan konflik militer.