Trump Beri Ultimatum 15 Hari ke Iran Soal Program Nuklir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan batas waktu maksimal 15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Dalam pernyataan tegasnya, Trump mengancam akan mengambil langkah lebih jauh jika tidak ada keputusan yang dicapai dalam jangka waktu tersebut.
Peringatan Keras di Air Force One
"Kita akan mencapai kesepakatan atau akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka," kata Trump kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One, seperti dilaporkan AFP pada Jumat (20/2/2026).
Ketika ditanya tentang durasi waktu yang diberikan, Trump menjelaskan, "Saya pikir itu akan cukup waktu, 10 hingga 15 hari, paling lama." Pernyataan ini menegaskan posisi keras pemerintah AS terhadap program nuklir Iran yang telah menjadi sumber ketegangan internasional selama bertahun-tahun.
Kesulitan Bernegosiasi dengan Iran
Trump juga mengakui bahwa mencapai kesepakatan dengan Iran bukanlah hal yang mudah. "Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran," ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan yang bermakna harus tercapai. "Kita harus membuat kesepakatan yang berarti, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," tambah Trump dalam pertemuan perdana "Dewan Perdamaian," sebuah inisiatif yang ia luncurkan untuk mengamankan stabilitas di Gaza.
Ancaman Langkah Lebih Jauh
Dalam acara yang digelar di Washington, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin harus mengambil tindakan lebih tegas jika tidak ada kesepakatan yang terbentuk dengan Iran. "Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," lanjutnya dengan nada mengancam.
Ultimatum ini muncul di tengah upaya Trump untuk memperkuat posisi AS dalam diplomasi internasional, khususnya terkait isu nuklir yang sensitif. Pemberian batas waktu 15 hari menunjukkan keseriusan pemerintah AS dalam menekan Iran untuk segera menyelesaikan perundingan.
Langkah Trump ini juga mencerminkan ketidaksabarannya terhadap proses diplomasi yang berlarut-larut dengan Iran. Dengan ancaman "hal buruk" yang akan terjadi, tekanan terhadap pemerintah Iran semakin meningkat dalam waktu singkat.