Trump Tawarkan Rencana Gencatan Senjata 15 Poin kepada Iran
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengajukan proposal gencatan senjata yang berisi 15 poin kepada Iran, dengan tujuan mengakhiri konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Tawaran ini disampaikan melalui Pakistan sebagai perantara, menandai upaya diplomatik baru dalam situasi yang tegang.
Media Ungkap Detail Proposal
Menurut laporan dari New York Times yang dikutip oleh Reuters dan Associated Press, informasi tentang tawaran gencatan senjata ini pertama kali diungkap oleh media terkemuka AS tersebut. Dua pejabat AS yang mengetahui garis besar proposal Washington mengonfirmasi bahwa rencana tersebut telah disampaikan kepada para pejabat Iran melalui Pakistan.
Isi dari 15 poin rencana gencatan senjata belum diungkapkan secara detail kepada publik, namun beberapa poin utama telah dilaporkan oleh Channel 12. Poin-poin tersebut meliputi pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Usulan Gencatan Satu Bulan
Dalam proposal tersebut, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan. Selama periode tersebut, kedua pihak diharapkan dapat merundingkan perjanjian yang mencakup 15 poin tersebut. Namun, belum jelas apakah Israel mendukung proposal ini, karena Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapannya.
Associated Press melaporkan bahwa sejumlah pejabat Israel, yang sebelumnya menganjurkan Trump untuk melanjutkan perang melawan Iran, merasa terkejut dengan langkah AS menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Gedung Putih juga belum menanggapi laporan-laporan media terkait proposal ini.
Iran Tolak dengan Cemoohan Keras
Pemerintah Iran menanggapi tawaran gencatan senjata dari AS dengan penolakan keras dan cemoohan. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, dalam pernyataan video yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran, menegaskan bahwa AS hanya akan berunding dengan diri mereka sendiri.
"Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis," kata Zolfaghari dalam pernyataannya yang ditujukan kepada AS. Ia menambahkan, "Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir."
Zolfaghari kemudian melontarkan cemoohan dengan mengatakan, "Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri Anda sendiri?" Pernyataan ini dirilis tak lama setelah pemerintahan Trump mengirimkan rencana gencatan senjata berisi 15 poin kepada Iran melalui Pakistan.
Ia menegaskan, "Kata pertama dan terakhir kami masih sama sejak hari pertama, dan akan tetap seperti itu: Orang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan orang seperti Anda. Tidak sekarang, tidak akan pernah." Tanggapan ini menunjukkan sikap tegas Iran yang menolak berkompromi dengan AS dalam konflik ini.
Latar Belakang dan Respons Lain
Sebelumnya, pada Selasa (24/3), Pakistan telah menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran. Trump sendiri baru-baru ini membahas kemungkinan kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk selama empat pekan terakhir. Pada Selasa (24/3), Trump mengklaim AS mencapai kemajuan dalam upaya menegosiasikan diakhirinya perang dengan Iran, termasuk memenangkan konsesi penting dari Teheran.
Namun, dengan penolakan keras dari Iran, prospek gencatan senjata ini tampak suram. Situasi ini memperlihatkan kompleksitas konflik di Timur Tengah dan tantangan diplomatik yang dihadapi oleh kedua belah pihak.



