Trump Sebut Perang AS di Iran Segera Berakhir, Sambil Kecewa pada NATO
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang AS di Iran akan segera berakhir. Dalam pernyataannya, ia memperkirakan konflik tersebut akan selesai dalam mungkin dua minggu, atau sedikit lebih lama untuk menuntaskannya. Namun, Trump menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah melumpuhkan semua kemampuan Iran.
Klaim Pencapaian Target dan Peluang Negosiasi
Trump mengklaim bahwa tujuan utama operasi militer sudah tercapai, yaitu mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Meski menyebut beberapa target, ia menekankan hanya ada satu tujuan tersebut. Ia juga membuka peluang kesepakatan dengan Iran dalam beberapa pekan ke depan. Jika tidak tercapai, AS mengancam akan menyerang target seperti jembatan. Selain itu, Trump menyatakan Washington tidak akan terlibat dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz, menunjukkan tekanan pada sekutu yang dinilai kurang berkontribusi.
Respons Iran dan Komunikasi dengan AS
Di sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengakui menerima pesan langsung dari utusan AS Steve Witkoff, tetapi menegaskan itu belum bisa disebut negosiasi. Ia menyatakan Iran belum menanggapi proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang. Araghchi menekankan bahwa Iran menuntut jaminan tidak akan diserang lagi dan kompensasi atas kerusakan perang. Ia juga menyebut serangan Iran ke negara Teluk tidak menyasar negara tersebut, melainkan aset milik AS.
AS Tinjau Ulang Hubungan dengan NATO
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan meninjau ulang hubungannya dengan NATO setelah perang berakhir. Ia menyatakan bahwa AS harus mengevaluasi kembali nilai aliansi tersebut, terutama jika NATO menghambat penggunaan pangkalan militer untuk kepentingan AS. Pernyataan ini sejalan dengan kritik Trump terhadap negara Eropa yang enggan terlibat langsung dalam perang. Prancis, Jerman, dan Inggris terus mendorong solusi diplomatik.
Seruan Damai dari Paus Leo XIV
Pemimpin agama dunia, Paus Leo XIV, menyerukan Presiden Trump untuk mengakhiri perang di Iran. Ia menyatakan harapan agar kekerasan berkurang sebelum Paskah pada 5 April, dengan menyoroti korban jiwa termasuk anak-anak. Paus juga mengkritik mereka yang mendorong konflik dan memiliki tangan berlumuran darah.
Artikel ini menggambarkan dinamika kompleks dalam konflik Iran-AS, dengan potensi pergeseran dalam hubungan internasional, terutama terkait NATO dan upaya perdamaian global.



