Trump Klaim Hancurkan 10 Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz
Trump Klaim Hancurkan 10 Kapal Iran di Selat Hormuz

Presiden AS Klaim Hancurkan Armada Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah menghancurkan 10 kapal penebar ranjau milik Iran di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan melalui platform media sosial Truth Social, menyusul peringatan keras dari Washington terhadap Teheran mengenai konsekuensi serius jika menempatkan amunisi di jalur air strategis tersebut.

Serangan Diluncurkan Menit Setelah Peringatan

Serangan terhadap kapal-kapal Iran tersebut diluncurkan hanya beberapa menit setelah AS memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peringatan ini terkait dengan upaya Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak global.

"Kami telah menghantam, dan menghancurkan sepenuhnya, 10 kapal dan/atau perahu peletak ranjau yang tidak aktif, dan akan ada lebih banyak lagi yang menyusul," tulis Trump di Truth Social. Pernyataan ini menegaskan komitmen AS untuk menjaga keamanan di kawasan tersebut.

Komando Pusat AS Unggah Video Ledakan Kapal

Sebagai bukti klaim tersebut, Komando Pusat AS mengunggah sebuah video di platform X (sebelumnya Twitter). Video tersebut, menurut klaim mereka, menunjukkan kapal-kapal Iran diledakkan dalam serangan tersebut. Unggahan ini dimaksudkan untuk memberikan konfirmasi visual atas operasi militer yang dilakukan.

Selat Hormuz telah lama menjadi titik panas geopolitik, dengan Iran berulang kali dituduh mengganggu navigasi kapal-kapal komersial. Klaim Trump ini muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Washington dan Teheran, terutama menyangkut program nuklir Iran dan aktivitas militer di kawasan Teluk Persia.

Insiden ini memperkuat kekhawatiran internasional mengenai stabilitas di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Respons Iran terhadap klaim AS ini belum dikonfirmasi secara resmi, namun analis memperkirakan Teheran akan membantah atau merespons dengan tindakan balasan.