Trump Bersikeras Ikut Tentukan Pengganti Khamenei, Contohkan Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa dirinya harus berperan dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru, menyusul wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan terkoordinasi AS dan Israel. Dalam wawancara eksklusif dengan media Axios, Trump menegaskan bahwa putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang dianggap sebagai kandidat terdepan, tidak dapat diterima oleh pemerintahannya.
Pernyataan Kontroversial Trump
"Putra Khamenei kurang berpengaruh dan tidak memenuhi kriteria kami," ujar Trump, seperti dilaporkan oleh AFP dan Al Arabiya pada Jumat, 6 Maret 2026. Ia lebih lanjut menambahkan, "Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti yang terjadi dengan Delcy di Venezuela." Pernyataan ini merujuk pada presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, yang menurut Trump mau bekerja sama dengan AS di bawah ancaman kekerasan setelah penggulingan Nicolas Maduro.
Trump memperingatkan bahwa tanpa adanya pemimpin yang disukai oleh Amerika Serikat di Iran, kemungkinan besar AS akan kembali terlibat dalam konflik bersenjata dalam lima tahun ke depan. "Kami menginginkan seseorang yang dapat membawa keselarasan dan perdamaian ke Iran, bukan figur yang akan memperburuk ketegangan," tegasnya.
Proses Pemilihan yang Kompleks
Meskipun Trump bersikeras, mekanisme pemilihan pemimpin tertinggi Iran sebenarnya berada di tangan Majelis Pakar, sebuah badan terpilih yang terdiri dari 88 ulama senior. Badan inilah yang secara konstitusional berwenang memilih penerus Khamenei. Mayoritas ulama senior Iran diketahui memiliki sikap sangat menentang kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sehingga pernyataan Trump dianggap banyak pengamat sebagai intervensi yang tidak realistis.
Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 atau lebih dari tiga dekade, wafat pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat. Kematiannya terjadi setelah serangan gabungan AS-Israel membombardir lokasi pertemuan antara dirinya dan pejabat tinggi Iran. Otoritas Iran mengonfirmasi berita duka ini pada Minggu, 1 Maret, dan mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Kandidat Pengganti Khamenei
Beberapa nama telah muncul sebagai calon pengganti Khamenei, di antaranya:
- Mojtaba Khamenei (56): Putra kedua almarhum, dianggap sebagai kandidat terdepan.
- Alireza Arafi (67): Ulama terkemuka dan orang kepercayaan Khamenei.
- Mohammad Mehdi Mirbagheri (60): Ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar.
- Hassan Khomeini (50): Cucu dari pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
- Hashem Hosseini Bushehri (60): Ulama senior yang dekat dengan Khamenei.
Hingga saat ini, otoritas Iran belum secara resmi mengumumkan siapa yang akan menggantikan Khamenei. Situasi ini menciptakan ketegangan politik yang tinggi, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.
Kebijakan garis keras Khamenei selama memimpin Iran mencakup penindasan internal dan konfrontasi dengan negara-negara tetangga, meninggalkan warisan yang kompleks bagi penerusnya. Pernyataan Trump ini dipandang sebagai upaya untuk memengaruhi proses suksesi, meskipun peluangnya diragukan mengingat sejarah permusuhan antara kedua negara.
