Trump Klaim 48 Pemimpin Iran Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dengan mengklaim bahwa sebanyak 48 pemimpin Iran telah tewas dalam serangan militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan jaringan media Fox News, Trump menggambarkan operasi ini sebagai sebuah kesuksesan besar yang berlangsung dengan sangat cepat.
Operasi Militer yang Dianggap Sukses
Trump menegaskan bahwa tidak ada yang percaya dengan tingkat kesuksesan yang berhasil dicapai oleh pasukan AS dan Israel. Serangan ini diluncurkan pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat, dengan tujuan utama menyingkirkan kepemimpinan Iran dan menghancurkan kemampuan militer negara tersebut. Menurut Trump, situasi pasca serangan berkembang dengan sangat positif, bahkan melebihi ekspektasi jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.
Dalam wawancara terpisah dengan CNBC, mantan presiden AS itu menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan Amerika Serikat, tetapi juga untuk dunia internasional. Ia menambahkan bahwa perkembangan situasi saat ini berjalan dengan sangat baik dan menguntungkan bagi pihak koalisi.
Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Iran
Sebelumnya, Trump telah mengumumkan secara langsung kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian dikonfirmasi oleh otoritas Iran sebagai akibat dari serangan gabungan AS-Israel. Namun, wawancara Trump dengan media AS tersebut tampaknya dilakukan sebelum militer Amerika Serikat mengumumkan adanya korban di pihak mereka sendiri.
Militer AS mengkonfirmasi bahwa setidaknya tiga personel militer Amerika tewas akibat serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran. Serangan pembalasan ini menargetkan pangkalan-pangkalan AS yang tersebar di berbagai lokasi di kawasan Timur Tengah. Selain itu, lima personel militer AS lainnya mengalami luka parah dan beberapa personel mengalami luka ringan.
Serangan Balasan dari Garda Revolusi Iran
Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengumumkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat yang berada di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar sebagai bentuk pembalasan atas serangan yang dilancarkan oleh Washington dan Tel Aviv. Beberapa negara Timur Tengah lainnya yang juga menjadi tempat penempatan pasukan AS melaporkan adanya ledakan dan serangan rudal di wilayah mereka.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer Amerika di kawasan Timur Tengah mengumumkan bahwa AS telah berhasil menenggelamkan sebuah kapal perang Iran yang berada di dermaga Teluk Oman. Pengumuman ini semakin memperuncing ketegangan antara kedua negara yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Trump tetap bersikukuh dengan klaimnya mengenai kesuksesan operasi militer tersebut, meskipun ada korban di pihak Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa tujuan operasi untuk menetralisir ancaman dari Iran tetap menjadi prioritas utama, dan perkembangan situasi di lapangan menunjukkan kemajuan yang signifikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
