Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terbuka terhadap pemerintah Kuba. Dalam pidatonya, Trump secara jelas mengisyaratkan bahwa serangan militer AS ke negara Karibia tersebut sangat mungkin terjadi, namun hanya akan dilaksanakan setelah konflik dengan Iran benar-benar berakhir.
Pernyataan Kontroversial di Gedung Putih
Seperti dilaporkan oleh media internasional Al Jazeera dan CNBC, pernyataan provokatif ini dilontarkan Trump pada Kamis (5/3/2026) di Gedung Putih. Momen tersebut bertepatan dengan kunjungan tim sepak bola Inter Miami, yang merupakan juara Major League Soccer tahun 2025.
"Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang ini terlebih dahulu," ujar Trump, merujuk pada perang melawan Iran. "Tetapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba." Pernyataan ini ditujukan kepada hadirin yang sebagian besar berasal dari Miami, termasuk banyak warga keturunan Kuba.
Pujian untuk Menteri Luar Negeri dan Tekanan Ekonomi
Dalam kesempatan yang sama, Trump secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dia memuji Rubio karena telah melakukan "pekerjaan fantastis" di Kuba, di mana pemerintahan AS telah secara agresif memperketat berbagai sanksi ekonomi. Sanksi-sanksi ini dirancang khusus untuk menekan dan melemahkan perekonomian pulau tersebut secara sistematis.
"Apa yang terjadi dengan Kuba sungguh luar biasa," cetus Trump dengan nada penuh keyakinan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa strategi tekanan ekonomi terhadap Havana dianggapnya sangat efektif dan sedang berjalan sesuai rencana.
Konteks Eskalasi di Timur Tengah dan Amerika Latin
Isyarat serius terhadap Kuba ini muncul kurang dari seminggu setelah konflik militer di Timur Tengah mengalami peningkatan intensitas yang signifikan. Trump dan para sekutunya memang memiliki sejarah panjang dalam mengancam Havana, dengan terus-menerus meningkatkan tekanan ekonomi yang bertujuan tunggal untuk menggulingkan pemerintahan komunis di negara tersebut.
Sebelum menyampaikan ancaman terhadap Kuba, Trump terlebih dahulu membanggakan perkembangan perang di Iran. Dia dengan lantang mengklaim bahwa militer AS dan Israel terus "menghancurkan musuh sepenuhnya" dalam operasi-operasi mereka.
Pola Intervensi Militer dan Pengabaian Hukum Internasional
Trump tampaknya konsisten dalam menggunakan ancaman kekuatan militer skala besar untuk memajukan berbagai prioritas kebijakan luar negerinya di seluruh dunia, termasuk di kawasan Amerika Latin. Dia sebelumnya pernah menyatakan bahwa Kuba tampak "siap untuk jatuh" dalam waktu dekat, yang semakin memperkuat spekulasi tentang rencana intervensi.
Penggunaan militer AS dalam penyerbuan di Venezuela pada Januari lalu, yang mengakibatkan penggulingan dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro serta menewaskan puluhan orang, telah banyak dikritik. Operasi militer terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba di Amerika Latin juga dianggap melanggar hukum internasional oleh banyak pengamat. Namun, Trump tampaknya acuh tak acuh terhadap batasan-batasan hukum tersebut.
"Kita telah meraih kesuksesan luar biasa dalam berbagai hal," ucap Trump tentang intervensi militer AS di berbagai belahan dunia. "Saya telah membangun militer dan membangun kembali pada masa jabatan pertama saya, dan kita telah menggunakannya, lebih dari yang saya inginkan, jujur saja, tetapi ketika kita menggunakannya, kita mendapati bahwa itu memang berhasil."
Dampak Pemutusan Pasokan Minyak Venezuela
Setelah operasi militer di Venezuela berhasil dilaksanakan, Trump dengan tegas menyatakan bahwa pasokan minyak dari negara tersebut ke Kuba akan sepenuhnya diputus. Langkah ini memiliki dampak strategis yang sangat besar, mengingat pasokan minyak Venezuela selama ini merupakan jalur ekonomi yang sangat vital bagi Kuba, terutama di tengah rentetan sanksi berat yang telah dijatuhkan oleh Amerika Serikat.
Pernyataan-pernyataan Trump ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa dia sedang mempertimbangkan langkah kebijakan luar negeri besar lainnya, yang berpotensi menimbulkan gejolak baru di kawasan Amerika Latin setelah konflik dengan Iran dinyatakan selesai.
