Trump Heran Iran Tak Kunjung Menyerah Meski Dikepung Kekuatan Militer AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan merasa heran dan mempertanyakan mengapa Iran belum juga "menyerah" dan bersedia membatasi program nuklirnya, meskipun menghadapi pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam wawancara dengan Fox News yang dilansir AFP pada Senin (23/2/2026).
Pertanyaan Trump yang Menggantung
Witkoff mengungkapkan bahwa Trump "penasaran" tentang posisi Iran setelah memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi berat jika kesepakatan nuklir gagal dicapai. "Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi', karena dia memahami bahwa dirinya memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum... Saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah', tetapi mengapa mereka belum menyerah," kata Witkoff dalam wawancara yang direkam pada Kamis (19/2) dan baru ditayangkan Sabtu (21/2) waktu setempat.
Utusan khusus itu melanjutkan dengan nada retoris, "Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, 'Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan'? Namun, agak sulit membuat mereka sampai pada titik itu."
Pengerahan Militer sebagai Alat Tekanan
Peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, termasuk pengiriman dua kapal induk beserta sejumlah jet tempur dan persenjataan lainnya, bertujuan untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan nuklir. Washington telah memerintahkan persiapan untuk potensi serangan udara selama beberapa minggu terhadap Iran, sementara Teheran membalas dengan ancaman akan menyerang pangkalan AS di kawasan tersebut jika diserang.
AS menginginkan Iran untuk:
- Menyerahkan uranium yang diperkaya yang berpotensi digunakan untuk membuat bom
- Menghentikan dukungan terhadap militan di Timur Tengah
- Menerima batasan pada program rudalnya
Posisi Iran yang Tegas
Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan hanya bersedia menerima sejumlah pembatasan sebagai imbalan atas pencabutan sanksi keuangan yang selama ini membebani perekonomian negara tersebut. Iran juga dengan tegas menolak untuk membahas isu-isu lain di luar kesepakatan nuklir, seperti program rudal balistik dan dukungan untuk kelompok bersenjata di kawasan.
Witkoff menyoroti bahaya dari aktivitas pengayaan uranium Iran, "Mereka telah memperkaya uranium jauh melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk senjata nuklir sipil. Hingga 60 persen (kemurnian fisil). Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki bahan pembuatan bom kelas industri, dan itu sangat berbahaya."
Perundingan yang Berlanjut dengan Tenggat Waktu
Perundingan nuklir antara AS dan Iran telah dilanjutkan kembali beberapa pekan terakhir dengan dimediasi oleh Oman, bertujuan untuk mencegah kemungkinan aksi militer yang semakin menguat. Pernyataan Witkoff ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa draf proposal untuk kesepakatan dengan AS akan siap dalam hitungan hari.
Trump sendiri telah memberikan tenggat waktu yang jelas, menyatakan pada Kamis (19/2) bahwa Teheran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Situasi ini menciptakan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, dengan kedua belah pihak saling menunjukkan kekuatan militer sambil tetap menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah laporan bahwa Iran diam-diam telah membuat kesepakatan senjata senilai Rp 9,9 triliun dengan Rusia, serta aksi unjuk rasa mahasiswa Iran yang kembali turun ke jalan di tengah ancaman serangan AS. Semua faktor ini menambah kompleksitas situasi dan membuat perundingan nuklir menjadi semakin genting dengan waktu yang terus berjalan.