Trump Klaim AS Tak Bergantung pada Selat Hormuz, Abaikan Dampak Perang Global
Trump: AS Tak Butuh Selat Hormuz, Abaikan Dampak Perang

Trump Klaim AS Tak Bergantung pada Selat Hormuz, Abaikan Dampak Perang Global

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak berupaya meremehkan ketergantungan negaranya pada Selat Hormuz dalam pidato terbarunya yang membahas perang melawan Iran. Trump dengan tegas mengklaim bahwa AS "tidak membutuhkan" Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis bagi pasokan minyak dan gas global. Pernyataan ini disampaikan di Gedung Putih pada Rabu malam, 1 April 2026, dan dilaporkan oleh CNN pada Kamis berikutnya.

Dampak Perang pada Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang dilintasi oleh sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, telah mengalami gangguan signifikan sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Menurut data dari perusahaan intelijen maritim Kpler, perlintasan di selat ini telah anjlok sekitar 95 persen sejak awal Maret, membatasi aktivitas pengiriman energi secara efektif. Hal ini telah menyebabkan banyak negara, terutama di Asia dan Eropa, menanggung dampak terberat berupa peningkatan biaya pengiriman dan kenaikan harga minyak global.

Trump, dalam pidatonya, berargumen bahwa AS hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak berencana melakukannya di masa depan. "Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan mengimpornya dari sana di masa mendatang. Kita tidak membutuhkannya," ujarnya. Ia menekankan bahwa AS, sebagai pemimpin dunia dalam produksi minyak dan gas, terlindungi dari guncangan pasokan yang dipicu oleh perang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kritik terhadap Pernyataan Trump

Namun, pernyataan Trump ini menuai kritik dan dianggap sulit diterima oleh banyak pihak. Warga AS, misalnya, telah merasakan dampak langsung dengan kenaikan harga bensin yang melampaui US$ 4 per galon untuk pertama kalinya sejak tahun 2022. Analis dan ekonom juga membantah klaim Trump bahwa harga gas akan segera turun kembali setelah perang berakhir, mengingat infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan dan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Lebih lanjut, pernyataan Trump dinilai mengabaikan bagaimana perang ini telah mengacaukan pasar dan ekonomi global, menyebabkan sekutu Washington di berbagai belahan dunia menanggung konsekuensinya. Negara-negara di Asia, yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk, menjadi pihak yang paling terdampak oleh penutupan sebagian besar aktivitas di Selat Hormuz.

Pesan Trump kepada Sekutu dan Ancaman Militer

Dalam pidatonya, Trump juga menyampaikan pesan kepada negara-negara lain yang bergantung pada Selat Hormuz. "Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut... Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan," katanya. Ia mengklaim bahwa selat ini akan dibuka kembali "secara alami" setelah perang berakhir.

Di sisi lain, Trump memberikan sinyal bahwa AS siap untuk mengintensifkan respons militernya terhadap Iran dalam 2-3 pekan ke depan, bahkan mencetuskan ancaman untuk membombardir Iran hingga kembali ke "Zaman Batu". Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa perang melawan Iran "hampir selesai" dengan tujuan-tujuan AS hampir tercapai, serta memuji pasukan militer AS atas "kemenangan luar biasa" yang diraih.

Dengan kompleksitas situasi ini, para analis memperingatkan bahwa harga minyak global kemungkinan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang sama, terlepas dari apakah perang segera berakhir atau tidak. Pernyataan Trump tentang ketidakbergantungan AS pada Selat Hormuz terus menjadi perdebatan di tengah gejolak energi dunia yang semakin memanas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga