Trump Ancam Ratakan Iran dalam Waktu Empat Jam Jelang Tenggat Ultimatum Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran menjelang tenggat waktu ultimatum pembukaan Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dilansir dari Al Jazeera pada Selasa, 7 April 2026, Trump menyatakan bahwa AS memiliki rencana untuk meratakan Iran, termasuk seluruh situs sipilnya, dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Rencana Penghancuran Total Situs Sipil Iran
Trump mengancam bahwa rencana penghancuran total ini dapat dilakukan hanya dalam empat jam setelah tenggat waktu yang ia tetapkan. Ia menargetkan pukul 12 tengah malam waktu setempat pada hari Rabu, atau tepat empat jam setelah batas kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya.
"Kami memiliki rencana, karena kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur pada pukul 12 tengah malam besok, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi - terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi, maksud saya penghancuran total," kata Trump dengan tegas.
Ia menambahkan, "Dan itu akan terjadi dalam kurun waktu empat jam jika kita menginginkannya. Kita tidak ingin itu terjadi," menunjukkan bahwa ancaman ini merupakan tekanan untuk mencapai resolusi damai.
Latar Belakang Ultimatum dan Penundaan Serangan
Ancaman ini bukanlah yang pertama kali dikeluarkan oleh Trump. Awalnya, pada 21 Maret, ia mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, jika Iran tidak membuka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman dalam waktu 48 jam.
Namun, dua hari kemudian, Trump menyatakan bahwa "percakapan yang sangat baik dan produktif" sedang dilakukan dengan otoritas Iran, sehingga ia menunda serangan tersebut selama lima hari. Tenggat waktu kemudian kembali ditunda hingga berakhir pada pukul 20.00 waktu setempat pada Senin, atau 00.00 GMT pada Selasa mendatang.
Implikasi dan Konteks Geopolitik
Ultimatum ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, terutama terkait dengan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting untuk perdagangan minyak global. Ancaman Trump ini menambah daftar konflik diplomatik dan militer antara AS dan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Pernyataan Trump juga menyoroti ketegangan dengan sekutu-sekutu AS, seperti yang terlihat dalam kritiknya terhadap NATO, Australia, Jepang, dan Korea Selatan yang dinilai tidak cukup membantu dalam menghadapi Iran. Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional, dengan Dewan Keamanan PBB juga dijadwalkan menggelar voting terkait Selat Hormuz.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia menunggu apakah Iran akan memenuhi tuntutan AS atau ancaman penghancuran total ini akan benar-benar dijalankan, berpotensi memicu konflik berskala besar di kawasan tersebut.



