Trump Ancam Luluh Lantakkan Rezim Iran, Konflik di Timur Tengah Makin Sengit
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap kepemimpinan Iran, menyatakan kesiapan untuk menghancurkan rezim tersebut secara total. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa AS memiliki kekuatan militer yang tak tertandingi untuk melakukannya.
Ancaman Militer dan Ekonomi dari Washington
Donald Trump menulis bahwa Amerika Serikat akan "menghancurkan sepenuhnya rezim teroris Iran, secara militer, ekonomi, dan dengan cara lain." Ia mengklaim bahwa angkatan laut Iran sudah lenyap, angkatan udaranya tidak lagi beroperasi, dan semua persenjataan termasuk rudal serta drone akan dihancurkan. Trump juga menyebut para pemimpin Iran sebagai "bajingan yang terganggu jiwanya" dan menganggap membunuh mereka sebagai kehormatan besar.
Meskipun Trump beberapa kali menyatakan perang dengan Iran bisa segera berakhir, serangan dari Iran dan milisi sekutunya terhadap Israel serta negara-negara di Timur Tengah masih terus terjadi. Misalnya, serangan rudal baru-baru ini di Sarsir, utara Israel, menyebabkan puluhan orang terluka dan kerusakan rumah.
Serangan Berlanjut di Kawasan
Negara-negara Teluk juga menjadi sasaran serangan. Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat banyak drone, sementara di Oman, dua orang tewas akibat drone yang jatuh. Di Dubai, Uni Emirat Arab, puing-puing proyektil menghantam sebuah bangunan dekat pusat keuangan. Di wilayah Kurdi Erbil, Irak, seorang tentara Prancis tewas dalam serangan, yang dikutip Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai tindakan tidak dapat diterima.
Militer AS kehilangan sebuah pesawat tanker di Irak dengan empat awak tewas, meskipun komando AS menyatakan insiden itu bukan akibat tembakan musuh. Sebaliknya, milisi yang didukung Iran mengklaim menembak jatuh pesawat tersebut.
Respons Israel dan Strategi AS
Militer Israel meluncurkan serangan baru terhadap Teheran, ibu kota Iran, menargetkan infrastruktur milik rezim yang disebut teroris. Israel juga menyerang sasaran di Lebanon untuk melemahkan milisi Hezbollah, termasuk membombardir Jembatan Srarieh di Sungai Litani.
Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan bahwa semua sumber daya militer Amerika saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran, termasuk terkait blokade di Selat Hormuz. Ia mengakui AS belum mampu mengawal kapal tanker melalui selat tersebut, tetapi Angkatan Laut AS diperkirakan akan segera bisa melakukannya.
Dampak Ekonomi dan Kritik Internasional
Dengan harga minyak sekitar 100 dolar per barel, pemerintahan Trump memberikan izin sementara untuk pembelian minyak Rusia, melonggarkan sanksi hingga 11 April. Langkah ini memungkinkan Rusia meningkatkan pendapatan dari penjualan minyak mentah, meskipun sedang berperang melawan Ukraina.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik keputusan Washington, menyatakan bahwa melonggarkan sanksi adalah langkah yang salah. Utusan Kremlin Kirill Dmitriev menanggapi dengan menyebut langkah tersebut sebagai pengakuan bahwa pasar energi global tidak stabil tanpa minyak Rusia.
Konflik yang memanas ini menunjukkan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah, dengan ancaman dari Trump menambah kompleksitas situasi geopolitik regional.
