Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari menyatakan bahwa kunjungan tiga pemimpin dunia ke Indonesia dalam waktu sepekan menjadi bukti nyata meningkatnya kepercayaan global terhadap Indonesia sebagai mitra strategis. Pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto ini mencerminkan pandangan internasional bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi dan stabilitas politik yang kokoh, menjadi fondasi kerja sama saling menguntungkan.
Kunjungan Presiden Belarus: Peluang Kerja Sama Industri dan Teknologi
Pada Kamis (2/7), Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko bertemu Prabowo. Pertemuan ini membuka peluang kerja sama di sektor industri, alat berat, teknologi, serta penguatan hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia. Kedua negara meluncurkan Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia–Belarus 2026–2030 sebagai kerangka kerja sama konkret lima tahun ke depan.
Kunjungan PM Singapura: 26 Capaian Kerja Sama
Pada Senin (6/7), Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong berkunjung ke Indonesia. Kedua negara menyepakati 26 capaian kerja sama di berbagai bidang, termasuk pengembangan ekonomi kawasan, energi bersih, dan ekonomi digital. Qodari menambahkan bahwa pertemuan juga membahas isu regional dan global serta menegaskan peran ASEAN sebagai jangkar stabilitas kawasan.
Kunjungan PM India: Kemitraan Ekonomi, Pendidikan, dan Budaya
Sehari kemudian, Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu Prabowo. Kerja sama tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan, penguatan kelembagaan, hubungan antarmasyarakat, dan kebudayaan. Komitmen restorasi Kompleks Candi Prambanan menjadi simbol kemitraan budaya kedua negara.
Diplomasi Berorientasi Hasil untuk Kepentingan Nasional
Qodari menekankan bahwa setiap pertemuan diarahkan untuk menghasilkan kerja sama konkret, saling menguntungkan, dan strategis. Diversifikasi kemitraan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, memperluas akses pasar ekspor, membuka peluang investasi, serta meningkatkan posisi tawar Indonesia di forum internasional. "Diplomasi Indonesia selalu berorientasi pada hasil karena diplomasi ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung pembangunan nasional," ujarnya.
Prinsip Bebas Aktif di Tengah Dinamika Global
Seluruh pertemuan mencerminkan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memilih memperluas kolaborasi alih-alih mempersempit pilihan atau berpihak pada satu kekuatan. Qodari mengutip pernyataan Presiden Prabowo: "Bagi Indonesia, 1.000 teman masih terlalu sedikit, sedangkan satu lawan sudah terlalu banyak."



