Serangan AS-Israel ke Iran Uji Komitmen Rusia dan China sebagai Sekutu
Ledakan dahsyat mengguncang Iran setelah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyebabkan gugurnya pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam di Teheran, tetapi juga mengalihkan perhatian dunia kepada dua sekutu utama Iran, yaitu Rusia dan China. Pertanyaan besar kini mengemuka: seberapa jauh kedua negara ini bersedia memberikan dukungan nyata kepada Iran dalam menghadapi agresi tersebut?
Posisi Rusia: Retorika Kuat tapi Dukungan Terbatas
Moskow telah menyuarakan kecaman keras terhadap serangan AS-Israel ke Iran, dengan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan "kekecewaan mendalam" atas memburuknya situasi menjadi agresi terbuka. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan mengecam aksi tersebut sebagai "agresi tanpa provokasi" dan menuding praktik pembunuhan politik terhadap pemimpin berdaulat.
Presiden Vladimir Putin turut menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyebut peristiwa ini sebagai pelanggaran moralitas manusia dan hukum internasional. Namun, di balik retorika yang keras, dukungan konkret Rusia tampak terbatas. Putin menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump dan masih mengakui peran Washington dalam mediasi dengan Ukraina.
Hubungan Rusia-Iran memang erat, terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina, di mana Teheran menjadi pemasok drone dan membantu menghindari sanksi Barat. Visi pemerintahan Iran yang sejalan dengan tatanan multipolar Kremlin juga membuat rezim ini penting bagi Moskow. Namun, perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani pada Januari 2025 tidak mencakup pakta pertahanan bersama, hanya berfokus pada berbagi informasi dan latihan gabungan.
Meski ada laporan kesepakatan militer besar, seperti pengiriman sistem pertahanan udara Verba senilai USD 500 juta, implementasinya masih tertunda. Rusia, yang masih sibuk di Ukraina, tampak enggan mempertaruhkan kepentingannya lebih jauh untuk Iran. Bagi Moskow, Iran terlalu penting untuk dibiarkan runtuh, tetapi tidak cukup penting untuk diperjuangkan dengan intervensi militer penuh.
Pendekatan China: Strategi Ekonomi dan Diplomasi Hati-hati
Pemerintah China juga mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, sejalan dengan penolakan historis Beijing terhadap strategi perubahan rezim yang dijalankan AS. Inti hubungan China-Iran adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan, dengan China sebagai mitra dagang terbesar dan pelanggan energi terpenting Iran.
China telah menjadi penopang utama ekonomi Iran di tengah sanksi berat AS, dengan membeli lebih dari 80% minyak Iran pada 2025 melalui jaringan ghost fleets untuk menghindari sanksi. Pendapatan ini membantu menstabilkan ekonomi Iran dan membiayai belanja pertahanan. Perjanjian strategis 25 tahun pada 2021 semakin mengokohkan hubungan, menjanjikan investasi ratusan miliar dolar untuk infrastruktur dan telekomunikasi Iran.
Namun, dalam ketegangan Iran-Israel dan Iran-AS, China mengambil pendekatan strategi menahan diri yang penuh perhitungan. Selama perang 12 hari antara Israel dan Iran pada 2025, Beijing konsisten menyerukan "menahan diri" sambil menyindir "campur tangan eksternal" AS. China berperan sebagai penyokong diplomatik dengan menggunakan hak veto di PBB, tetapi tidak pernah menawarkan intervensi militer langsung.
Bagi Beijing, Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga penyeimbang geopolitik terhadap pengaruh AS di Timur Tengah. Runtuhnya Republik Islam Iran akan menjadi kekalahan besar bagi mekanisme multilateral yang didukung Moskow dan Beijing. China diprediksi akan memainkan strategi jangka panjang, berusaha menjalin hubungan baik dengan pengganti Khamenei, sambil menjaga stabilitas kawasan untuk menghindari lonjakan harga minyak dunia.
Implikasi dan Masa Depan Hubungan
Serangan AS-Israel ke Iran telah menguji batas komitmen Rusia dan China sebagai sekutu. Sementara kedua negara menunjukkan solidaritas melalui retorika dan dukungan diplomatik, intervensi militer langsung tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Rusia, dengan prioritas di Ukraina, dan China, dengan fokus pada kepentingan ekonomi, lebih memilih pendekatan hati-hati.
Namun, jika konflik semakin meluas atau struktur politik Iran terancam runtuh, perhitungan ini bisa berubah. Untuk saat ini, dukungan Rusia dan China terhadap Iran tetap terbatas pada ranah retorika dan kerja sama teknis, mencerminkan kompleksitas hubungan internasional di tengah ketegangan global yang meningkat.
