Saran Pakar untuk Indonesia di Tengah Ketegangan Iran dan AS yang Kian Memanas
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meruncing, dengan peluang perang terbuka yang terus mendekati kenyataan. Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, menyatakan bahwa konflik antara kedua negara ini sulit untuk dihindarkan. AS telah mengirimkan dua kapal induk ke kawasan Timur Tengah, menandakan bahwa gesekan dengan Iran telah mencapai tahap yang sangat serius.
Analisis Pakar Mengenai Potensi Konflik
Menurut Teuku, perang terbuka dapat terjadi kapan saja. Dalam skenario AS, Iran dipandang sebagai target yang mudah ditaklukkan, namun Iran diperkirakan tidak akan menyerah. Negara tersebut akan konsisten mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, yang terus diproses secara rahasia dengan tujuan damai.
Dampak pada Kawasan Timur Tengah
Gesekan antara Iran dan AS diprediksi akan berdampak signifikan pada stabilitas di Timur Tengah. Teuku meyakini bahwa Iran akan mengambil posisi bertahan dalam konflik ini, tetapi juga telah menyiapkan rudal balistik yang siap diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS. Bagi Iran, perang ini dianggap suci, sebagai upaya mempertahankan maruah Islam dan melawan AS yang dipandang sebagai ancaman besar bagi perdamaian dunia.
Sikap Ideal yang Harus Diambil Indonesia
Lalu, bagaimana sikap ideal yang harus diambil Indonesia dalam situasi ini? Teuku menekankan bahwa Indonesia harus berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah Indonesia wajib bersikap netral dan tidak berpihak jika perang antara Iran dan AS benar-benar meletus.
Langkah-langkah Keamanan Nasional
Indonesia juga harus mampu mengamankan ruang udara, darat, dan laut di seluruh wilayahnya jika konflik terjadi. Pengetatan wilayah ini diharapkan dapat mencegah spionase atau penyelundupan senjata. Dengan sumber daya yang terbatas, Indonesia perlu segera mengendalikan ruang-ruang tersebut untuk melindungi diri dari penyusupan sipil bersenjata, perang elektronik, dan ancaman lainnya di perbatasan.
Peran Diplomasi dan Penguatan Sistem Keamanan
Selain itu, Indonesia harus berani mengambil inisiatif di jalur diplomasi saat perang berkecamuk. Dorongan untuk segera menggelar sidang istimewa Dewan Keamanan PBB perlu diambil dengan tegas oleh Indonesia. Langkah ini penting untuk mendorong resolusi damai dan mencegah eskalasi konflik.
Lebih lanjut, pemerintah Indonesia harus memperkuat sistem keamanan nasional. Hal ini dilakukan agar wilayah Indonesia tidak menjadi sasaran baru bagi pihak-pihak yang ingin memperluas medan perang. Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, yang melibatkan TNI, Polri, Komcad, rakyat terlatih, dan pertahanan sipil, perlu dioptimalkan untuk mencegah Indonesia dijadikan target dalam konflik global.
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas dan keamanan nasional sambil tetap aktif berkontribusi dalam upaya perdamaian dunia.