Rusia Serukan Solusi Politik dan Diplomatik Usai Ultimatum Trump ke Iran
Rusia secara resmi menyerukan penyelesaian politik dan diplomatik untuk perang di Timur Tengah. Seruan ini dikeluarkan menyusul ultimatum yang diberikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, Trump mengancam akan menghancurkan jaringan listrik negara tersebut.
Ultimatum Trump dan Respons Rusia
Dilaporkan oleh AFP pada Senin, 23 Maret 2026, Trump memberikan peringatan bahwa ia akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali jalur air strategis tersebut dalam waktu 48 jam. Ultimatum ini seharusnya berakhir pada Senin malam waktu AS, 22 Maret 2026. Selat Hormuz tetap tertutup sejak dimulainya perang yang dipicu oleh pemboman AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam konferensi pers menyatakan, "Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik." Ia menekankan bahwa ini adalah satu-satunya cara yang dapat efektif meredakan ketegangan yang telah berkembang di kawasan tersebut.
Kekhawatiran atas Fasilitas Nuklir
Rusia, yang membantu membangun satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi di Bushehr, telah memperingatkan serangan yang dapat membahayakan lokasi tersebut. Pekan lalu, badan pengawas nuklir PBB mengumumkan bahwa fasilitas ini telah terkena proyektil. Peskov menyatakan pada Senin, 16 Maret, bahwa tren ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika berlanjut.
"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan," tambahnya. Rusia terus berdialog dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai pembangkit Bushehr untuk memastikan keamanan.
Seruan dari Komunitas Internasional
Kepala IAEA, Rafael Grossi, menyerukan "pengekangan selama konflik untuk menghindari risiko kecelakaan nuklir." Pernyataan ini dikeluarkan pekan lalu, menekankan pentingnya menjaga stabilitas di tengah eskalasi militer. Situasi ini menyoroti kompleksitas konflik Timur Tengah dan perlunya upaya diplomatik yang intensif.
Dengan ultimatum Trump yang meningkatkan ketegangan, respons Rusia menegaskan pentingnya jalur dialog untuk mencegah konflik yang lebih luas dan melindungi infrastruktur kritis seperti fasilitas nuklir.



