Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan negaranya tidak akan meninggalkan Lebanon selatan sampai ancaman dari kelompok Hizbullah benar-benar hilang. Pernyataan ini disampaikan setelah Lebanon dan Israel menandatangani pakta kerangka kerja yang dimediasi oleh Amerika Serikat pekan lalu, yang bertujuan membuka jalan menuju perdamaian di antara kedua negara.
Penarikan Pasukan Bergantung pada Pelucutan Senjata Hizbullah
Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki bergantung pada pelucutan senjata Hizbullah oleh Beirut melalui pembentukan "zona percontohan" yang akan diambil alih oleh militer Lebanon. Namun, Netanyahu bersikeras bahwa Israel tidak akan angkat kaki sampai ancaman dari Hizbullah benar-benar hilang.
"Posisi kami jelas, kami tidak akan meninggalkan Lebanon selatan sampai ancaman tersebut hilang. Dan selama Hizbullah, yang bersenjata, masih ada di sini dan mengancam kami, kami akan tetap berada di sini," kata Netanyahu dalam pernyataannya, Rabu (1/7/2026), seperti dilansir dari AFP.
Netanyahu Minta Iran dan Hizbullah Tinggalkan Lebanon Selatan
Netanyahu juga meminta Iran dan Hizbullah untuk meninggalkan Lebanon selatan. Ia menyinggung adanya dua negara berdaulat yang ingin hidup damai. "Kami katakan kepada Iran dan Hizbullah: tinggalkan tempat ini, kalian tidak lagi memiliki tempat di sini. Ada dua negara berdaulat yang ingin hidup dalam damai," tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung di kawasan tersebut, meskipun ada upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian. Negosiasi antara AS dan Iran di Doha juga masih penuh tanda tanya, menambah kompleksitas situasi.
Menteri Pertahanan Israel: Belum Ada Jadwal Penarikan Pasukan
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya menekankan bahwa pihaknya belum menetapkan jadwal penarikan pasukan dari Lebanon, Jalur Gaza, dan Suriah. Katz mengatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan yang ada di wilayah-wilayah tersebut demi melindungi warganya dari ancaman.
"Kita harus tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza, dan bukan untuk jangka waktu terbatas, guna melindungi penduduk dan komunitas kita dari ancaman elemen-elemen jihadis yang berasal dari wilayah tersebut," ujar Katz saat menghadiri seremoni kelulusan akademi militer Israel.
"Kami menentang penarikan pasukan IDF dari zona keamanan di Lebanon, terlepas dari segala tekanan yang ada maupun yang mungkin muncul di kemudian hari," tegasnya.
Dampak dan Reaksi
Sikap keras Israel ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesepakatan damai, implementasinya masih menghadapi banyak hambatan. Kehadiran pasukan Israel di Lebanon selatan telah menjadi sumber ketegangan selama bertahun-tahun, dan pernyataan Netanyahu serta Katz memperkuat posisi bahwa keamanan Israel adalah prioritas utama di atas kesepakatan diplomatik.
Belum ada tanggapan resmi dari pihak Hizbullah atau pemerintah Lebanon terkait pernyataan terbaru Netanyahu. Namun, situasi ini diperkirakan akan terus mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.



