Reza Pahlavi Serukan Pembelotan Militer Iran Usai Kematian Khamenei
Reza Pahlavi Serukan Pembelotan Militer Iran Pasca Kematian Khamenei

Reza Pahlavi Serukan Pembelotan Militer Iran Usai Kematian Khamenei

Reza Pahlavi, putra mantan Syah Iran, telah memberikan respons tegas terhadap kematian Ayatollah Ali Khamenei. Kematian pemimpin tertinggi Iran ini terjadi menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam pernyataannya yang dikeluarkan pada hari berikutnya, Minggu 1 Maret 2026, Pahlavi secara gamblang menggambarkan wafatnya Khamenei sebagai akhir de facto dari sistem pemerintahan Iran yang selama ini berkuasa.

Seruan Langsung kepada Pasukan Keamanan

Pahlavi tidak hanya berhenti pada pernyataan simbolis. Ia secara langsung menyasar dan menyerukan kepada seluruh pasukan keamanan Iran untuk mengambil tindakan tegas. "Saya berbicara kepada militer, aparat penegak hukum, dan semua organisasi keamanan," tegas Pahlavi, seperti dikutip dari laporan media. Inti pesannya adalah ajakan untuk "membelot" dan meninggalkan loyalitas mereka terhadap rezim yang diyakininya sedang berada di ambang keruntuhan.

Alih-alih terus membela struktur kekuasaan yang ada, Pahlavi mendesak agar para anggota pasukan keamanan mempertimbangkan untuk beralih sisi. Seruan ini muncul dalam konteks ketegangan regional yang memanas pasca serangan udara tersebut, yang menewaskan salah satu figur paling sentral dalam hierarki politik Iran. Pernyataan Pahlavi ini dianggap sebagai upaya untuk memanfaatkan momen kritis tersebut guna mendorong perubahan dari dalam sistem.

Implikasi dan Konteks Geopolitik

Kematian Ali Khamenei bukan sekadar peristiwa personal, tetapi merupakan pukulan besar bagi tatanan politik Iran yang telah ia pimpin selama beberapa dekade. Reza Pahlavi, sebagai salah satu tokoh oposisi yang aktif di luar negeri, melihat momen ini sebagai kesempatan untuk menggalang dukungan dan mendesak transformasi. Seruannya kepada militer dan aparat keamanan mencerminkan strategi untuk melemahkan pilar-pilar pendukung rezim dari dalam.

Situasi ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan kekuatan asing, khususnya AS dan Israel, yang telah lama bersitegang mengenai berbagai isu, termasuk program nuklir dan dukungan Iran terhadap kelompok militan di kawasan. Respons Pahlavi turut menyoroti dinamika internal Iran yang kompleks, di mana tekanan eksternal dan ketidakstabilan internal dapat saling mempengaruhi. Keberaniannya menyerukan pembelotan menunjukkan keyakinannya bahwa rezim saat ini sedang mengalami krisis legitimasi dan kekuatan yang signifikan.