BEIJING – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Kamis, 14 Mei 2026, dipandang mampu meredakan ketegangan sementara antara kedua negara adidaya tersebut. Namun, dua akademisi hubungan internasional dari Griffith University, Australia, menilai bahwa rivalitas antara Washington dan Beijing tidak akan hilang begitu saja.
Pandangan Akademisi Griffith University
Dalam artikel yang dipublikasikan di The Conversation pada 13 Mei 2026, Kai He dan Huiyun Feng mengemukakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi kedua pemimpin dunia saat ini adalah memastikan persaingan AS-China tidak berubah menjadi konflik paling berbahaya di dunia. Mereka menekankan bahwa perang bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan.
Analisis Lebih Lanjut
Menurut para ahli, meskipun pertemuan ini dapat meredakan ketegangan untuk sementara, akar persaingan strategis antara kedua negara tetap kuat. Isu-isu seperti perdagangan, teknologi, dan pengaruh geopolitik masih menjadi sumber gesekan yang signifikan. Kedua pemimpin perlu menunjukkan komitmen nyata untuk menjaga stabilitas global dan menghindari eskalasi konflik.
Pertemuan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi dialog lebih lanjut dan kerja sama di berbagai bidang, namun para pengamat mengingatkan bahwa perubahan mendasar dalam hubungan bilateral memerlukan waktu dan upaya yang konsisten.



