Pangkalan AS di UEA Dinilai Beban Strategis, Akademisi Serukan Tinjau Ulang
Pangkalan AS di UEA Dinilai Beban, Seruan Tinjau Ulang

Pangkalan Militer AS di UEA Kini Dinilai Sebagai Beban Strategis

Pangkalan militer Amerika Serikat yang berlokasi di wilayah Uni Emirat Arab saat ini dinilai telah berubah menjadi beban, alih-alih tetap menjadi aset strategis yang menguntungkan. Seruan untuk mempertimbangkan penutupan pangkalan-pangkalan tersebut semakin mengemuka di kalangan akademisi dan analis keamanan.

Seruan Akademisi Terkemuka untuk Tinjau Ulang Kehadiran Militer AS

Dr Abdulkhaleq Abdulla, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Uni Emirat Arab, secara terbuka menyerukan peninjauan kembali keberadaan militer AS di UEA. Mantan penasihat Putra Mahkota Abu Dhabi ini menyatakan bahwa UEA tidak lagi memerlukan perlindungan langsung dari Amerika Serikat, mengingat kemampuan pertahanan nasionalnya yang terus meningkat.

"UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk membelanya. UEA telah membuktikan selama serangan Iran bahwa mereka mampu membela diri secara efektif," tegas Abdulla dalam pernyataannya yang dilaporkan oleh Reuters, seperti dikutip Middle East Monitor. Dia menambahkan bahwa yang dibutuhkan UEA saat ini adalah akses ke persenjataan terbaik dan tercanggih milik AS, bukan kehadiran pasukan asing di wilayahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kekhawatiran atas Keterlibatan dalam Konflik Regional

Abdulla juga memperingatkan bahwa keberlanjutan pangkalan-pangkalan AS di UEA berpotensi menjerat negara tersebut dalam konflik regional yang melibatkan pihak-pihak lain, padahal UEA bukanlah aktor langsung dalam perseteruan tersebut. "Fase saat ini membutuhkan pertimbangan serius tentang masa depan pangkalan militer AS di wilayah UEA," ungkapnya melalui media sosial X pada Minggu malam.

Menurutnya, fokus pada penguatan kemampuan nasional dan pengadaan persenjataan canggih akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan mempertahankan kehadiran militer asing yang justru dapat menjadi sumber kerentanan.

Data Kehadiran Militer AS di Timur Tengah dan Dampak Perang

Berdasarkan data dari Dewan Hubungan Luar Negeri, Amerika Serikat memiliki setidaknya 19 lokasi militer di kawasan Timur Tengah, dengan delapan di antaranya dikategorikan sebagai pangkalan permanen. Sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari, sekitar 40.000 tentara AS ditempatkan di wilayah tersebut.

Uni Emirat Arab sendiri menjadi tuan rumah bagi sekitar 3.500 personel militer AS, termasuk di pangkalan udara Al-Dhafra yang digunakan bersama dengan Prancis. Sejak konflik memanas, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

UEA mengalami dampak yang cukup signifikan, dengan ratusan serangan drone dan rudal menghujani wilayahnya dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini semakin memperkuat argumen bahwa kehadiran pangkalan AS justru meningkatkan risiko keamanan bagi UEA, daripada memberikan perlindungan yang diharapkan.

Seruan untuk mengevaluasi kembali keberadaan militer AS di UEA ini mencerminkan pergeseran dinamika keamanan regional, di mana negara-negara Teluk semakin percaya diri dengan kemampuan pertahanan mandiri mereka. Keputusan mengenai masa depan pangkalan-pangkalan tersebut akan memiliki implikasi penting bagi stabilitas kawasan dan hubungan bilateral antara UEA dan Amerika Serikat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga