Oman Usulkan Skema Baru Pengelolaan Selat Hormuz, Biaya Sukarela bagi Kapal
Oman Usulkan Skema Baru Pengelolaan Selat Hormuz

Oman mengusulkan skema pengelolaan Selat Hormuz yang didukung negara-negara Teluk kepada Iran, termasuk mekanisme pembayaran biaya secara sukarela bagi kapal yang melintasi jalur strategis tersebut. Usulan itu disampaikan sebagai salah satu upaya untuk mengakhiri gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz yang terjadi di tengah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Informasi tersebut disampaikan sumber dari negara-negara Teluk dan seorang diplomat Barat kepada Reuters pada Selasa, 28 Juli 2026.

Latar Belakang Konflik Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak global melewati selat ini setiap harinya, menjadikannya titik rawan gangguan perdagangan. Sejak beberapa tahun terakhir, ketegangan antara Iran, AS, dan Israel meningkat, di mana Iran sempat mengancam akan menutup selat tersebut sebagai respons terhadap sanksi dan tekanan internasional. Ancaman itu memicu kekhawatiran akan krisis energi global dan lonjakan harga minyak.

Detail Proposal Oman

Dalam proposal tersebut, Iran tidak akan memegang kendali tunggal atas Selat Hormuz. Sebaliknya, pengelolaan akan dilakukan secara bersama dengan melibatkan negara-negara Teluk lainnya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman sendiri. Biaya yang dikenakan kepada kapal yang melintas bersifat sukarela, bukan pungutan wajib. Artinya, kapal-kapal dapat memilih untuk membayar atau tidak, tanpa ada paksaan. Mekanisme ini dirancang untuk mengurangi resistensi dari Iran yang selama ini mengklaim memiliki hak atas selat tersebut, sekaligus menjaga kelancaran arus perdagangan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dukungan Negara Teluk dan Respons Iran

Menurut sumber yang sama, negara-negara Teluk sudah menyatakan dukungan terhadap inisiatif Oman. Mereka berharap skema ini dapat meredakan ketegangan dan mencegah konflik bersenjata di kawasan. Seorang diplomat Barat yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa proposal ini merupakan langkah positif yang dapat membuka jalan bagi dialog lebih lanjut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran. Iran sebelumnya menolak setiap usulan yang mengurangi kedaulatan mereka atas Selat Hormuz, tetapi dengan sifat sukarela dari biaya tersebut, ada kemungkinan Teheran akan mempertimbangkannya.

Dampak terhadap Perdagangan Global

Gangguan di Selat Hormuz selama ini telah mempengaruhi pasar minyak global, menyebabkan volatilitas harga dan ketidakpastian pasokan. Jika skema Oman berhasil diimplementasikan, para analis memprediksi stabilitas kawasan akan meningkat, sehingga harga minyak dapat lebih stabil. Selain itu, negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, Korea Selatan, dan India akan diuntungkan dengan berkurangnya risiko gangguan pasokan. Namun, keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada kesediaan Iran untuk berpartisipasi dan tidak lagi menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik.

Langkah Selanjutnya

Oman dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pihak terkait dalam beberapa pekan mendatang. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan prinsip dan kerangka waktu implementasi. Sementara itu, negara-negara Teluk terus mendorong solusi diplomatik untuk menghindari eskalasi militer yang dapat mengancam keamanan energi dunia. Proposal ini menjadi salah satu dari sedikit inisiatif damai yang muncul di tengah ketegangan yang memanas di Timur Tengah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga