Berbagai Negara Sambut Baik Gencatan Senjata AS-Iran, PBB Serukan Kepatuhan
Berbagai negara di dunia telah menyampaikan sambutan positif terhadap kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan ini muncul setelah perang yang meluas di kawasan Timur Tengah berkecamuk selama lebih dari enam pekan terakhir.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam tanggapannya seperti dilansir AFP, Rabu (8/4/2026), mengharapkan semua pihak mematuhi gencatan senjata tersebut demi mewujudkan perdamaian yang bertahan lama. Baik AS maupun Iran mengatakan mereka menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, dan sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik. Kedua negara akan menggelar perundingan lebih lanjut untuk membahas finalisasi gencatan senjata, yang dijadwalkan akan digelar di Pakistan pada Jumat (10/4) mendatang.
Reaksi Negara-Negara Terkait
Berbagai negara telah memberikan reaksi terhadap gencatan senjata yang lama dinantikan itu, dengan sebagian besar memberikan sambutan baik.
- Pakistan: Sebagai mediator konflik AS dan Iran, Pakistan menyambut baik gencatan senjata tersebut. Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator, mengundang delegasi Washington dan Teheran untuk hadir di Islamabad pada Jumat (10/4) mendatang guna menyelesaikan semua perselisihan.
- Perserikatan Bangsa-Bangsa: Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyambut baik gencatan senjata antara AS dan Iran. Melalui juru bicaranya, Guterres menyerukan semua pihak yang terlibat dalam konflik saat ini di Timur Tengah untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata guna membuka jalan menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan.
- Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Mesir: Arab Saudi memberikan dukungan untuk gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran, dengan menyerukan kesepakatan yang komprehensif untuk membawa kembali stabilitas ke kawasan. Uni Emirat Arab menyebut diri sebagai pemenang dari perang yang ingin dihindari, sementara Oman menekankan pentingnya solusi permanen. Qatar menegaskan kepatuhan penuh, dan Mesir menyampaikan apresiasi atas langkah diplomasi AS.
- Irak: Otoritas Irak menyambut baik gencatan senjata AS-Iran, dengan menyerukan dialog serius yang membahas akar penyebab perselisihan.
- Turki: Kementerian Luar Negeri Turki mengharapkan agar gencatan senjata sementara ini sepenuhnya diterapkan di lapangan dan berharap semua pihak mematuhi perjanjian tersebut.
- Uni Eropa: Diplomat utama Uni Eropa, Kaja Kallas, mengharapkan gencatan senjata itu menciptakan peluang untuk mengurangi ancaman, menghentikan rudal, memulai kembali pelayaran, dan menciptakan ruang untuk diplomasi.
- Inggris, Jerman, dan Prancis: PM Inggris Keir Starmer menyebut gencatan senjata akan membawa momen kelegaan, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak akhir perang yang langgeng, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutnya sebagai hal yang sangat baik.
- Spanyol: PM Spanyol Pedro Sanchez menyambut baik gencatan senjata AS-Iran sebagai kabar baik, dengan Menlu Jose Manuel Albares mengingatkan bahwa semua front harus berhenti, termasuk di Lebanon.
- China: Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan bahwa Beijing menyambut baik pengumuman pihak-pihak terkait tentang tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
- Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru: Korea Selatan mengharapkan negosiasi berhasil, Jepang menekankan keamanan navigasi, Australia ingin melihat gencatan senjata ditegakkan, dan Selandia Baru menyebutnya kabar menggembirakan namun mengingatkan masih ada pekerjaan penting.
- Indonesia: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut baik kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, melihatnya sebagai momentum untuk mengedepankan diplomasi daripada konfrontasi militer.
Dengan berbagai dukungan ini, harapan untuk perdamaian di Timur Tengah semakin menguat, meski perundingan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan stabilitas jangka panjang.



