Musim Dingin Kelima Perang Ukraina: Warga Tabah Hadapi Suhu Minus 25 Derajat
Musim Dingin Kelima Perang Ukraina: Warga Tabah Hadapi Suhu Minus

Musim Dingin Kelima Perang Ukraina: Warga Tabah Hadapi Suhu Minus 25 Derajat

Warga Ukraina dengan ketabahan luar biasa memasuki tahun kelima perang melawan Rusia di tengah musim dingin yang ekstrem. Serangan-serangan terus terjadi bahkan saat suhu turun hingga minus 25 derajat Celsius, menciptakan kondisi hidup yang sangat sulit bagi penduduk.

Survei Mengungkap Ketahanan di Tengah Penderitaan

Lembaga Survei Sosiologi Internasional Kyiv atau Kyiv International Institute of Sociology (KIIS) menerbitkan jajak pendapat pada awal Februari 2026 yang meneliti sikap warga Ukraina terhadap perang. Survei tersebut dilakukan pada akhir Januari, ketika serangan besar-besaran Rusia terhadap fasilitas energi menyebabkan pemadaman listrik serta gangguan pada sistem pemanas dan air di seluruh negeri, khususnya di ibu kota Kyiv.

Jajak pendapat KIIS menemukan bahwa 88% responden menilai serangan Rusia terhadap sistem energi Ukraina bertujuan memaksa negara itu menyerah. Namun, dalam menunjukkan keteguhan hati, 65% dari mereka yang diwawancarai mengatakan siap bertahan selama diperlukan. Angka ini meningkat dari beberapa bulan sebelumnya, di mana pada September dan Desember 2025, sekitar 62% menyatakan hal yang sama.

Pengalaman Pribadi di Garis Depan Konflik

Julia, seorang warga Kyiv, mengungkapkan perasaannya kepada DW: "Januari ini tidak membuat saya lebih bertekad atau lebih marah, karena sejak 2022 saya sudah sangat bertekad dan marah. Ini hanyalah tahap lain dari pertempuran yang sangat sulit yang pada akhirnya akan kami menangkan dengan satu cara atau cara lain." Suami Julia, yang memiliki seorang putri bersamanya, telah ditugaskan di medan perang sejak 2024. Julia menambahkan, "Kemarahan saya membantu saya tetap teguh, tetapi juga kesadaran bahwa tidak ada pilihan lain. Apa pun selain berdiri teguh akan jauh lebih buruk."

Anton Hruschezkyj, Kepala KIIS, menjelaskan bahwa salah satu faktor terpenting yang memperkuat ketahanan masyarakat adalah kesadaran bahwa perang Rusia melawan Ukraina bersifat eksistensial. Bagi warga Ukraina, perang ini bukan hanya tentang keadilan, tetapi tentang kelangsungan hidup semata. "Ketangguhan warga Ukraina masih tinggi. Meskipun mereka lelah dan terbuka untuk membuat konsesi yang sulit, mereka tidak siap melampaui 'garis merah' tertentu," ungkapnya.

Istilah 'Cholodomor' dan Dampak Psikologis

Upaya Rusia untuk membuat kehidupan sehari-hari warga Ukraina menjadi tak tertahankan tidak mengubah pola pikir ini. Warga Ukraina bahkan mulai menyebut penderitaan ini sebagai "Cholodomor," atau "pembunuhan melalui suhu dingin." Istilah ini berasal dari "holodomor," yang berarti "kematian karena kelaparan," merujuk pada bencana kelaparan buatan manusia di Ukraina Soviet di bawah rezim Josef Stalin pada 1932 dan 1933.

Psikolog Kateryna Kudrschynska mencatat bahwa warga Ukraina kelelahan akibat stres perang yang berkepanjangan. "Hal ini berdampak pada tubuh, sistem saraf, dan kondisi psikis." Ia menilai ketahanan Ukraina juga berakar pada penolakan untuk kehilangan lebih banyak lagi setelah begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan.

Harapan untuk Masa Depan dan Rekonstruksi

Natalia, seorang mahasiswa yang tinggal di Kyiv, menyatakan, "Kami ingin bertahan, karena jika menyerah, keadaan akan jauh lebih buruk di bawah kepemimpinan Rusia." Ia datang ke Lapangan Kemerdekaan di ibu kota untuk meletakkan bendera kecil di sebuah tugu peringatan darurat bagi para prajurit yang gugur, termasuk ayahnya yang baru-baru ini meninggal di wilayah Donetsk.

Mahasiswa tersebut, yang sempat mengungsi ke luar negeri pada awal perang sebelum akhirnya kembali, terkadang merasa sulit menanggung kehilangan ayahnya, kondisi hidup yang ekstrem, dan situasi negara secara keseluruhan. "Saya memperoleh kekuatan dari kenyataan bahwa saya hidup demi ayah saya, yang ingin hidup dan membangun masa depan bersama keluarganya. Saya tidak bisa menyerah karena dia. Saya yakin Ukraina memiliki masa depan. Ukraina adalah rumah saya, saya tidak ingin pergi. Saya ingin membangun kembali negara saya," tegasnya.

Perspektif dari Para Prajurit di Medan Perang

Di garis depan, prajurit seperti Serhij (nama diubah) yang menjadi sukarelawan sebagai tenaga medis empat tahun lalu, melaporkan bahwa para pejuang semakin kurang termotivasi dan kurang tangguh. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya masa penugasan yang tetap, hampir tidak ada kesempatan untuk demobilisasi, serta dukungan finansial yang tidak memadai bagi prajurit yang tidak ditempatkan di garis depan.

Kyrylo, yang bertugas sebagai spesialis telekomunikasi di angkatan darat Ukraina, mengungkapkan bahwa rekan-rekannya telah terbiasa dengan kurangnya waktu istirahat: "Kami sudah begitu terbiasa sehingga Anda bahkan tidak ingat lagi bagaimana rasanya sebelumnya. Jika dulu Anda punya rencana masa depan, sekarang sudah tidak ada lagi. Ini bukan pesimisme. Lebih seperti: 'Apa pun yang terjadi, terjadilah.' Ini semacam kepasrahan, bukan keputusasaan."

Kyrylo juga mengakui bahwa suasana di militer tegang akibat skandal korupsi pemerintah dan kasus penyalahgunaan dana industri pertahanan. Pengungkapan semacam itu membuatnya dan rekan-rekannya merasa dikhianati.

Optimisme di Tengah Tantangan

Hrushetsky percaya bahwa kemampuan warga Ukraina untuk terus berjuang saat perang memasuki tahun kelima juga bergantung pada keyakinan bahwa mitra-mitra Eropa terus memberikan dukungan. "Penderitaan saat ini dipandang sebagai investasi untuk masa depan," pungkasnya. Data terbaru KIIS menunjukkan bahwa lebih dari 60% warga Ukraina tetap optimistis dan percaya bahwa dalam sepuluh tahun ke depan Ukraina akan menjadi anggota Uni Eropa yang makmur.

Dengan ketabahan yang tak tergoyahkan, warga Ukraina terus bertahan di musim dingin kelima perang, menghadapi suhu ekstrem dan serangan tanpa henti, sambil mempertahankan harapan untuk perdamaian dan pembangunan kembali di masa depan.