Mojtaba Khamenei, Putra Pemimpin Tertinggi Iran, Terpilih sebagai Pengganti Ayahnya
Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru

Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya yang Wafat

Majelis Pakar Iran, yang terdiri dari 88 ulama senior, telah memilih Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Mojtaba, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, menggantikan ayahnya yang tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel sepekan lalu. Pemilihan ini menegaskan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh atas Iran pasca-wafatnya Khamenei.

Sosok Mojtaba: Dari Latar Belakang hingga Kontroversi

Mojtaba Khamenei, seorang ulama berusia 56 tahun, lahir pada tahun 1969 di kota suci Mashhad. Dia tumbuh besar saat ayahnya terlibat dalam perlawanan oposisi terhadap Shah Iran. Sebagai pemuda, Mojtaba pernah bertugas bersama militer Iran dalam perang Iran-Irak. Dia menempuh pendidikan di Qom, pusat pembelajaran ajaran Syiah, di bawah bimbingan kaum konservatif agama, dan memiliki gelar Hoojjatoleslam.

Meskipun tidak pernah memegang posisi formal dalam pemerintahan Iran, Mojtaba telah mengumpulkan kekuasaan signifikan di bawah ayahnya. Dia dikenal sebagai tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran, termasuk Garda Revolusi Iran (IRGC), serta kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. Perannya sebagai "penjaga gerbang" ayahnya memberikannya pengaruh luas di balik layar dalam aparatur politik dan keamanan Iran.

Pemilihan dan Kritik Terhadap Mojtaba

Menurut Mohsen Heidari Alekasir, anggota Majelis Pakar Iran, pemilihan Mojtaba didasarkan pada arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi harus "dibenci oleh musuh". Alekasir menyebut bahwa "Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya", merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menilai Mojtaba sebagai pilihan "tidak dapat diterima".

Namun, pemilihan Mojtaba menuai kontroversi di dalam negeri. Para pengkritik menolak politik dinasti di Iran, negara yang menggulingkan monarki didukung AS pada tahun 1979. Mereka juga mempertanyakan kualifikasi keagamaan Mojtaba, karena gelar Hojjatoleslam yang dipegangnya berada satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah, seperti yang dipegang ayahnya dan pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomenei.

Dampak dan Tantangan ke Depan

Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba memegang hak untuk mengambil keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran. Dia dikenal menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat untuk mengekang program nuklir Iran, yang menurut Teheran hanya untuk tujuan sipil.

Mojtaba dapat menghadapi perlawanan dari warga Iran yang telah menunjukkan kesiapan untuk unjuk rasa massal menuntut kebebasan lebih besar, meskipun otoritas keamanan sering melakukan penindakan brutal. Selain itu, dia telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada tahun 2019, dengan alasan mewakili pemimpin tertinggi tanpa pernah terpilih atau diangkat secara resmi.

Pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran menandai babak baru dalam politik negara tersebut, dengan tantangan internal dan tekanan internasional yang terus membayangi.