Menlu Iran Sebut Perang AS-Israel Gagal, Tolak Negosiasi Nuklir
Menlu Iran: Perang AS-Israel Gagal, Tolak Negosiasi Nuklir

Menlu Iran Sebut Perang AS-Israel Telah Gagal, Tolak Kembali Bernegosiasi Nuklir

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah mengalami kegagalan. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Kegagalan Rencana Militer AS-Israel

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Selasa (10/3/2026), Araghchi mengungkapkan bahwa rencana awal AS dan Israel telah gagal total. "Rencana A gagal, dan sekarang mereka mencoba rencana lain, tetapi semuanya juga gagal," tegasnya. Ia menambahkan bahwa kedua negara tersebut tidak memiliki tujuan akhir yang jelas, sehingga melakukan serangan tanpa pandang bulu terhadap daerah permukiman sipil.

Lebih lanjut, Araghchi menyoroti dampak serangan terhadap infrastruktur energi Iran, yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam. "Mereka gagal mencapai tujuan mereka di awal, dan sekarang, setelah 10 hari, saya pikir mereka tidak memiliki tujuan," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan pandangan Iran bahwa operasi militer AS-Israel tidak efektif dan hanya menimbulkan kerusakan luas.

Penolakan Negosiasi Nuklir dengan AS

Di sisi lain, Menlu Iran dengan keras menolak kemungkinan kembali melakukan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Dalam percakapan dengan PBS News, Araghchi menyatakan bahwa dialog dengan AS tidak lagi menjadi agenda, mengacu pada "pengalaman yang sangat pahit" selama putaran pembicaraan nuklir sebelumnya.

"Mereka berjanji kepada kami bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyerang kami, dan mereka ingin menyelesaikan masalah nuklir Iran secara damai dan menemukan solusi yang dinegosiasikan," kata Araghchi. "Namun, mereka tetap memutuskan untuk menyerang kami." Ia menegaskan bahwa pertanyaan tentang berdialog dengan Amerika tidak akan dipertimbangkan lagi, menandai ketegangan diplomatik yang semakin dalam.

Klaim Trump tentang Kemajuan Perang

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang melawan Iran sudah "sangat tuntas". Dalam wawancara telepon dengan CBS News pada Senin (9/3/2026), Trump mengklaim bahwa Washington jauh lebih cepat dari perkiraan awal, yang memperkirakan perang berlangsung empat hingga lima pekan.

"Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya," ujar Trump dari klub golfnya di Doral, Florida. Ia menambahkan bahwa Iran tidak memiliki angkatan laut, komunikasi, atau angkatan udara yang efektif, dengan rudal dan drone yang hampir habis. Militer AS melaporkan telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam operasi bernama "Operation Epic Fury".

Trump juga menyebut bahwa AS "sangat jauh" melebihi perkiraan durasi perang. Ketika ditanya apakah perang akan segera berakhir, ia menjawab: "Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan pikiran orang lain." Pernyataan ini menunjukkan perbedaan persepsi yang tajam antara AS dan Iran mengenai status konflik.

Dampak dan Implikasi Konflik

Serangan skala besar AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari telah memicu eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan dampak meluas ke sektor energi global. Kenaikan harga minyak akibat serangan infrastruktur Iran menjadi salah satu konsekuensi yang signifikan, mempengaruhi ekonomi dunia.

Dengan penolakan Iran untuk bernegosiasi dan klaim AS tentang kemajuan militer, situasi ini mengindikasikan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Konflik ini tidak hanya menyangkut isu militer, tetapi juga diplomasi nuklir dan stabilitas regional, yang memerlukan perhatian internasional untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.