Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan telah bertolak ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Kunjungan ini terjadi di tengah kebuntuan upaya perdamaian dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Pernyataan Trump tentang Negosiasi
Langkah diplomatik ini muncul tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran dapat menghubungi Washington jika ingin membuka kembali negosiasi. Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (27/4/2026), Trump mengatakan, "Kalau mereka ingin bicara, mereka bisa datang ke kami atau menelepon kami."
Trump juga menegaskan bahwa syarat utama kesepakatan tetap sama, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS tetap pada posisinya meskipun ada upaya diplomatik baru dari Iran.
Implikasi Kunjungan ke Rusia
Kunjungan Araghchi ke Rusia dinilai sebagai upaya Iran untuk mencari dukungan dari negara lain di tengah tekanan AS. Rusia selama ini menjadi salah satu mitra penting Iran dalam isu nuklir dan keamanan regional. Pertemuan dengan Putin diharapkan dapat membuka jalan baru bagi negosiasi atau setidaknya memperkuat posisi tawar Iran.
Belum ada pernyataan resmi dari Kremlin mengenai agenda pertemuan tersebut. Namun, analis internasional memperkirakan bahwa pembahasan akan mencakup kerja sama energi, militer, dan kemungkinan mediasi dalam konflik Iran-AS.
Konflik antara Iran dan AS memanas setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi. Iran merespons dengan meningkatkan pengayaan uranium, yang memicu kekhawatiran global akan proliferasi nuklir.



