Ledakan Guncang Teheran, Iran Tuduh AS dan Israel Serang 10.000 Lokasi Sipil
Ledakan Teheran, Iran Tuduh AS-Israel Serang Lokasi Sipil

Ledakan Dahsyat Guncang Ibu Kota Iran di Tengah Eskalasi Konflik

Suara ledakan keras kembali mengguncang kota Teheran, ibu kota Iran, pada Rabu (11/3/2026). Insiden ini terjadi bersamaan dengan pernyataan resmi pemerintah Iran yang menuduh militer Amerika Serikat dan Israel telah melakukan pembombardiran besar-besaran terhadap hampir 10.000 lokasi sipil di seluruh wilayah negara tersebut.

Korban Jiwa Mencapai Ribuan dalam 11 Hari Pertempuran

Berdasarkan laporan dari jaringan berita Aljazeera yang dikutip pada hari yang sama, pihak Iran menyatakan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas sejak konflik bersenjata ini pecah sekitar 11 hari terakhir. Angka korban yang terus bertambah ini memicu keprihatinan internasional terhadap situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di kawasan tersebut.

Televisi pemerintah Iran, IRIB, menayangkan rekaman visual yang menyedihkan dari dampak serangan terhadap sebuah Sekolah Dasar (SD) putri di Kota Minab. Insiden yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 51 orang, sebagian besar adalah anak-anak, dan menyebabkan sekitar 60 korban luka-luka. Serangan terhadap fasilitas pendidikan ini terjadi dalam kerangka perang yang lebih luas antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Tuduhan Serangan Sengaja terhadap Warga Sipil dan Permukiman

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, seperti dilansir The Guardian, dengan tegas menuduh bahwa AS dan Israel secara sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan-serangan mereka. Dalam paparannya, Iravani merinci bahwa dari sekitar 10.000 lokasi sipil yang diserang, sekitar 8.000 di antaranya adalah unit rumah penduduk. Pernyataan ini memperkuat narasi Iran bahwa agresi militer yang dilakukan telah melanggar hukum humaniter internasional.

Serangan Balasan Iran Berlanjut, Negara Teluk Tingkatkan Pertahanan

Di sisi lain, serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran dilaporkan terus berlanjut tanpa henti. Situasi ini memicu respons dari sejumlah negara di kawasan Teluk yang meningkatkan kewaspadaan dan pertahanan udara mereka. Negara-negara seperti Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa mereka telah berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang diluncurkan dalam beberapa jam terakhir. Upaya pencegatan ini menunjukkan eskalasi konflik yang mulai meluas dan berdampak pada stabilitas keamanan regional.

Eskalasi militer ini juga turut mempengaruhi kondisi pasar global. Seperti dilaporkan sebelumnya, harga minyak dunia sempat mengalami penurunan setelah mantan Presiden AS Donald Trump memprediksi bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir, yang diikuti oleh penguatan pasar saham di Asia. Namun, perkembangan terbaru dengan ledakan di Teheran dan klaim serangan terhadap sipil ini berpotensi mengembalikan ketidakpastian dan volatilitas di pasar komoditas energi.

Konflik yang semakin memanas ini menempatkan masyarakat sipil Iran sebagai pihak yang paling menderita. Dengan ribuan rumah hancur dan korban jiwa yang terus berjatuhan, tekanan terhadap pemerintah Iran dan komunitas internasional untuk mencari jalan damai semakin mendesak. Masa depan perdamaian di kawasan Timur Tengah sekali lagi diuji di tengah pertukaran serangan dan tuduhan yang saling menyalahkan antara pihak-pihak yang bertikai.