Korea Utara Murka, Tuduh Jepang Lakukan Provokasi Serius Lewat Dokumen Diplomatik
Korut Murka ke Jepang Soal Dokumen Diplomatik dan Nuklir

Korea Utara Murka, Tuduh Jepang Lakukan Provokasi Serius Lewat Dokumen Diplomatik

Hubungan tegang antara Korea Utara dan Jepang kembali memanas setelah Pyongyang menuduh Tokyo melakukan "provokasi serius" melalui dokumen diplomatik tahunannya. Kedua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal ini terlibat dalam adu pernyataan keras menyusul rilis buku biru Kementerian Luar Negeri Jepang pekan lalu.

Dokumen Jepang Picu Kemarahan Pyongyang

Kementerian Luar Negeri Jepang secara resmi merilis buku biru tahunannya yang berisi pandangan diplomatik Tokyo. Dalam dokumen tersebut, Jepang mengulangi penentangannya yang kuat terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara. Posisi ini langsung memicu reaksi keras dari Pyongyang.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya menyampaikan pernyataan resmi melalui kantor berita KCNA. "Posisi tersebut merupakan provokasi serius yang melanggar hak kedaulatan, kepentingan keamanan, dan hak pembangunan negara suci kami," tegas pernyataan itu seperti dilansir AFP pada Rabu (15/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Korut Tegaskan Hak Membela Diri dan Program Nuklir

Pernyataan Korea Utara lebih lanjut menegaskan bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya termasuk dalam hak untuk membela diri yang sah. Pejabat Korut bahkan menyebut dokumen diplomatik Jepang itu "dibuat dengan logika dan absurditas ala gangster konvensional", menunjukkan tingkat kemarahan yang tinggi dari pemerintah Pyongyang.

Korea Utara dengan tegas bersikeras bahwa mereka tidak akan melepaskan persenjataan nuklirnya, menggambarkan jalan yang ditempuhnya sebagai "tidak dapat diubah" dan berjanji untuk terus memperkuat kemampuan militernya. Sikap ini konsisten dengan posisi Korea Utara selama bertahun-tahun mengenai program nuklirnya yang kontroversial.

Isu Lain dalam Dokumen Diplomatik Jepang

Selain fokus pada program nuklir Korea Utara, dokumen diplomatik tahunan Jepang juga menyoroti beberapa isu regional penting lainnya:

  • Jepang menyatakan kekhawatiran bahwa Korea Utara telah mengirim pasukan dan amunisi ke Rusia untuk membantu perang melawan Ukraina
  • Tokyo menurunkan penilaiannya terhadap China untuk pertama kalinya dalam satu dekade, menyebut Beijing sebagai "tetangga penting" alih-alih "salah satu mitra terpenting Jepang"

Perubahan terminologi terhadap China ini menandai memburuknya hubungan bilateral antara Tokyo dan Beijing. Ketegangan meningkat sejak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengindikasikan pada November lalu bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

Diketahui bahwa China memandang Taiwan sebagai wilayahnya yang tak terpisahkan dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan jika diperlukan. Isu Taiwan menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan China dengan negara-negara lain di kawasan.

Latar Belakang Hubungan yang Bermasalah

Ketegangan antara Korea Utara dan Jepang memiliki akar sejarah yang dalam. Pyongyang sering mengkritik keras Tokyo atas pemerintahan kolonial Jepang di Semenanjung Korea yang berakhir dengan Perang Dunia II. Warisan sejarah ini terus membayangi hubungan kedua negara hingga saat ini.

Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal, dan komunikasi antara mereka sering kali dilakukan melalui pernyataan media atau saluran tidak langsung. Dokumen diplomatik tahunan Jepang menjadi salah satu momen reguler di mana posisi resmi Tokyo disampaikan, yang sering kali memicu reaksi dari Pyongyang.

Insiden terbaru ini memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan antara kedua negara tetangga di Asia Timur ini. Sementara Jepang konsisten menentang program nuklir Korea Utara, Pyongyang sama konsistennya dalam mempertahankan haknya untuk mengembangkan kemampuan pertahanan termasuk senjata nuklir.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga