Korban Jiwa Akibat Serangan AS-Israel di Iran Capai 1.900, Ribuan Luka-luka
Teheran - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan, dengan laporan terbaru menyebutkan sebanyak 1.900 orang tewas sejak perang meletus. Selain itu, sekitar 20 ribu orang lainnya mengalami luka-luka, memperparah situasi kemanusiaan yang sudah genting di negara tersebut.
Situasi Kemanusiaan Memburuk dengan Cepat
Kepala delegasi Bulan Sabit Merah Iran, Maria Martinez, dalam konferensi pers bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat (27/3/2026), mengungkapkan bahwa kondisi kemanusiaan di Iran memburuk dengan sangat cepat. Ia menggambarkan Teheran, kota dengan populasi sekitar 9 juta jiwa, terasa benar-benar kosong akibat dampak serangan yang terus berlanjut.
Martinez menceritakan kisah tragis di mana seorang petugas penyelamat menemukan jenazah keluarganya sendiri di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan AS-Israel. Di kota Qom, insiden serupa terjadi, dengan petugas penyelamat lainnya menemukan bibinya dan suaminya, bersama seorang anak kecil, menjadi korban dalam konflik ini.
Kerusakan Infrastruktur Sipil yang Parah
Serangan udara AS-Israel tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil Iran. Sekitar 289 fasilitas medis serta 600 sekolah dan lembaga pendidikan telah rusak, mengganggu layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat. Selain itu, 17 kantor Bulan Sabit Merah Iran mengalami kerusakan, dan hampir 100 ambulans hancur, memperumit upaya bantuan dan evakuasi.
Inflasi Meroket dan Krisis Akses Barang Penting
Inflasi di Iran, yang sudah tinggi sebelum perang dimulai, semakin meroket akibat konflik ini. Martinez menekankan bahwa kenaikan harga sangat membatasi akses masyarakat ke barang-barang penting, termasuk makanan dan obat-obatan, yang semakin memperburuk penderitaan warga.
Beberapa kota di Iran selatan mengalami pemadaman listrik dan air, sementara secara nasional, Iran menghadapi pemadaman internet yang memperparah isolasi dan kesulitan komunikasi. Hingga saat ini, rezim Iran belum merilis angka korban resmi sejak perang berkecamuk, menambah ketidakpastian dalam situasi yang sudah kacau ini.



